TEKS VERBATIM: SIDANG MEDIA KHAS YAB PERDANA MENTERI DATO’ SERI ANWAR BIN IBRAHIM
TEKS VERBATIM
SIDANG MEDIA KHAS
YAB PERDANA MENTERI
DATO’ SERI ANWAR BIN IBRAHIM
30 DISEMBER 2025 (SELASA) | 4.00 PETANG
BANGUNAN PERDANA PUTRA
PUTRAJAYA
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam sejahtera.
Thank you. Malaysia welcomes the agreement by Cambodia and Thailand to consolidate their ceasefire through direct talks held in China. The swift transition from a cessation of hostilities to structured follow-up discussions reflects a determination to prevent relapse and to stabilise the situation on a more durable footing as presented by the KL Peace Accord.
I am grateful for China’s role, especially Foreign Minister Wang Yi, in hosting these discussions and in providing a setting in which both sides were able to focus on practical steps to reduce risk and rebuild confidence. Such facilitation consisted in the ASEAN priority agenda is most valuable when it supports de-escalation and reinforces regional efforts.
I also wish to recognise the vital role played by United States President Donald J. Trump, whose engagement helped broker the Kuala Lumpur Peace Accords that laid the groundwork for the cessation of hostilities. That involvement contributed to creating the political space in which parties were able to step back from confrontation and commit to restraint.
I also want to take this opportunity to comment on the latest development in Myanmar post-elections yesterday and today. Now, ASEAN leaders will continue to consider developments with care, including steps underway relating to the political process. Any assessment will proceed in a sequenced manner, guided by the need to reduce violence, avoid actions that could deepen divisions or confer premature legitimacy and preserve the possibility of an inclusive and credible pathway forward.
On Gaza, I take note of the recent discussions held in Florida aimed at addressing the next phase of the peace process. Let us be clear, there must be no return to large-scale violence. Any resumption would exact an intolerable cost to civilians and further erode already fragile prospects for peace. Israel must be held accountable for its actions and obligations under international law.
Finally, Malaysia aligns fully with the position taken by a broad group of states and by the Organisation of Islamic Cooperation in rejecting Israel’s recognition the so-called “Somaliland” region.
We express our categorical opposition to any attempt to use “Somaliland”, or any other territory as a destination for the forcible transfer or displacement of the Palestinian people from Gaza. Such notions are totally and wholly unacceptable, violate international law and humanitarian principles and would further perpetuate injustice rather than contribute to peace. We reject all actions that undermine the international legal order. Terima kasih.
Selanjutnya saya nak maklumkan, saya baru ke Istana Johor, menghadap Kebawah Duli Yang Maha Mulia Tuanku Sultan Ibrahim Yang di-Pertuan Agong, dan di antara tema utama yang kami bincangkan ialah tentang langkah-langkah tegas tahun kebelakangan ini dan juga mutakhir ini terhadap rasuah yang menular di peringkat atasan.
Meskipun Kerajaan MADANI telah menegaskan bahawa di antara dasar utamanya ialah menekankan isu tatakelola, menghapuskan amalan rasuah dan kebejatan, namun masih ada saki-baki yang terperangkap dengan kerangka dan pola budaya lama yang bobrok.
Saya tentunya menyampaikan maklumat terkini, hasil siasatan badan-badan. Cuma menekankan bahawa kita tidak akan bertolak ansur, tidak akan menerima apa-apa ugutan dari mana-mana pihak, dan kita akan tegas menghadapi masalah ini sama ada kawan atau lawan.
Beberapa tindakan telah diambil yang melibatkan juga anggota pentadbiran, termasuk di pejabat saya, rakan-rakan dari parti komponen dalam perpaduan, pembangkang, pimpinan utama angkatan tentera dan penjawat awam.
Kita akan terus bertindak tegas menyelamatkan negara dan dapat menggunakan dana yang sewajibnya dan wajar untuk membela nasib rakyat jelata. Terima kasih.
SESI SOAL JAWAB
Soalan 1: Thivya, BERNAMA
Dato’ Seri, on the Thai and Cambodia issue. There’s a perception among many Thai people that Malaysia is not acting as an honest broker, instead PM Anwar is leaning towards Cambodia. Please comment on that.
Jawapan:
There’s a perception of one or two small entities. I am monitoring that very closely. They are not privy to many of the facts and information.
I’ve consistently taken a very reserved and also cautious approach, discussing with both Prime Minister Anutin Charnvirakul and Prime Minister Hun Manet, and our Chief of Armed Forces contacted both parties. Similarly, the Foreign Minister are in touch with the both Foreign Ministers.
Our position is, of course, to help mediate and ensure the cessation of hostilities. The decision is entirely the Thais and the Cambodians. We don’t decide. Those criticisms levied against us based on pure ignorance and prejudice because any decision, be it KL Accord, the general border meetings, and meetings coordinated by our Foreign Minister, myself, and with the coordination President Trump and now with Foreign Minister Wang Yi, all are done consistent with the KL Accord and with the understanding and full participation and finally full agreement by both countries.
Soalan 2: Seth Akmal, Astro Awani
Komen Dato’ Seri berkaitan dengan situasi politik di Perlis?
Jawapan:
Saya syukur Alhamdulillah kerana muafakat, Kerajaan Perpaduan MADANI itu lebih mantap, lebih ikhlas dan tidak ada usaha sabotaj, khianat sepertimana berlaku di kalangan rakan-rakan lain. Terima kasih.
SESI TAKLIMAT MEDIA
YAB DATO’ SERI ANWAR BIN IBRAHIM
PERDANA MENTERI
BERSAMA
KETUA PENGARANG
MEDIA TEMPATAN DAN ANTARABANGSA
17 DISEMBER 2025 (RABU), 5.30 PETANG
KOMPLEKS SERI PERDANA, PUTRAJAYA
MUKADIMAH:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera.
Pertamanya, mohon ampun dan maaf, sebab first kabinet. Kemudian ada beberapa aspek yang tertangguh. Okay. Itu saya potong semua ucapan saya. Semua fakta sudah tahu, pertumbuhan, pelaburan, semualah. Oleh itu kalau ada soalan silalah.
SOALAN 1: HANIS IZMIR (BERNAMA)
Menjelang tahun 2026, apakah keutamaan Dato’ Seri dalam memastikan kerajaan perpaduan terus stabil dan fokus dengan agenda rakyat?
And my second question is, with less than 2 years remaining amid ongoing fiscal reforms and subsidy rationalization, what are your key economic priorities to ensure fiscal discipline is maintained while delivering tangible cost of living relief to the Malaysians? Thank you.
JAWAPAN 1:
Terima kasih dalam rencana kita pada 5 Januari, saya akan berikan pengarahan ataupun kenyataan tentang halatuju negara untuk satu tahun dan berikutnya.
Tapi untuk hari ini saya nak sebut bahawa tiga tahun masa kita consolidate kerajaan stabil kita hadapi sesetengah masalah kebimbangan tentang ketidakstabilan dan sebagainya dan kita mula melangkah untuk memperkenalkan beberapa undang-undang yang agak menjurus ke arah reform, Fiscal Responsibility Act dan Rationalisasi Subsidi dan lain-lain.
Saya rasa sudah sampai ketikanya untuk mulai tahun depan ini, kita langkah dengan lebih berani lagi isu-isu tertangguh yang dianggap lebih sensitif atau kontroversial, kita kena berdepan dengan lebih tegas dan berani ini termasuk soal keberkesanan badan-badan penguatkuasa dan ketegasan dalam ambil tindakan tapi juga ketegasan dalam memastikan proses dan peraturan dipatuhi sebab itu saya bangga dengan langkah hari ini yang agak julung-julung kali berlaku bila peguam negara memutuskan, kita tidak pertahankan apa-apa salah laku jenayah besar dalam negara kita tapi tegas dalam soal ketelanjuran termasuk mengkaji kemungkinan pendakwa, pesalah-pesalah dan soal penembakan di Melaka bawah 302 ini bagi saya tidak sering berlaku dalam keadaan sebelumnya ini penting kita pulihkan keyakinan kepada institusi dalam negara kita. Begitu juga dalam proses yang pelaksanaan lainnya SPRM, LHDN dan sebagainya bukan sahaja pelaksanaan itu lebih tegas dan berkesan tapi proses itu dihormati.
Kemudian isu-isu kaum dan agama kemudian soal bahasa, soal ekonomi itu kita akan hadapi dengan lebih tegas, tidak betul langsung kena suara-suara sumbang umpamanya pelantikan Jemaah Menteri Wilayah Persekutuan tidak semestinya bila ada Menteri Cina, dia akan menindas Melayu dan Menteri Melayu yang bertanggungjawab pengarah jabatan Wilayah Persekutuan Melayu, Datuk Bandar Melayu bekerja sebagai pasukan, ada keperluan bantu semua kaum.
Jadi, itu saya sedia maklum bila kita melantik ini jadi seolah-olah Melayu terabai dan Cina diserah Kuala Lumpur, bagaimana kepentingan dalam negeri? Menteri dan Timbalan Menterinya Melayu. Apakah dengan cara ini kita menindas India dan China? Ada juga melampau India yang cakap bahawa sekarang ini India tidak boleh berjalan di sebelah malam kerana keselamatan mereka terancam.
Ada pandangan-pandangan begitu tapi pandangan-pandangan orang yang kurang siuman, yang tidak memperdulikan soal kestabilan negara dan keamanan negara. Saya tidak lihat KDN itu sebagai markas Melayu atau badan pertahanan atau Kementerian Pembangunan Desa dan Wilayah.
Jadi, pendekatan yang ini kita harus hadapi dengan berani kita tidak akan begini. What I’m saying is in this narrative you continue to use this race, God or color we’ll never get anywhere. So it’s time for us to be just fare I tried to do so in the issue of language, why can’t all of us respectively you’re promoting English or Chinese, UEC or Tamil.
Start by reaffirmation of our commitment to enhance the level of proficiency and command of the Malay language then you get everybody to understand then as I’ve said earlier, what is the importance of English? But you see the narrative in the polemics is still very skewed to one particular race.
Not only the Malays, even the Chinese or some Indians naturally why can’t we think as Malaysians language to succeed in this country? Bahasa the importance of English which cannot be underestimated, 2026 is not 1950s as a trading nation globalization we need to enhance the same with the issue of Chinese or Tamil or Arabic.
Now if Chinese come to UEC yes, but within that broad parameters which means the commitment to enhance our history and our language then proceed to me UEC is a secondary issue it’s not a problem issue of recognition UEC I emphasize it’s not an issue if seen in this broad context of the role of bahasa, enhancement of English as a language and Chinese schools or independent schools that respect the need to understand our history and our language that’s it then you have UEC I don’t have a problem with that.
You can have other systems French system, English system, American system it does not it’s not an issue but look at it as Malaysians in the broader context but still you can see the debate is still skewed to a religion Anwar one group says Anwar oppose UEC. The other say Anwar is conceding to the Chinese demand to the DAP Demand nothing to do with DAP you follow my trajectory my life on DEB I’m not promoting my book but I’ve said this partly yes, you know I’m consistent in that.
So I would need your understanding and support because otherwise what has transpired in the media all seems will invariably influence the outlaw and thinking of many of our people but what else can I say? Is it wrong for me to emphasize the importance of Bahasa? It’s 2025 coming 2026 what can we talk to all of us level of proficiency all streams you can have Chinese language you can have UEC but can you say it’s not a matter of lose? Oh, we pass 96% pass SPM better than national schools.
Yes, of course you ask the national schools of Manik Urai to Kapit of course you can’t compete with best schools. To me it’s not an issue it’s important to get all streams to understand if it is done, they say well, many of these Chinese independents will observe fair I don’t have a problem get it done and we proceed.
Of course you have to battle again the moment you say UEC there’ll be broad spectrum of Malay crowd they use hey will use this against us under the terms of the control of the DAP.
So but so be it this will be the new line for next year. We need a lot of courage of course we need effective communications. The major criticism is that our communication team is not that strong I’ve already reminded the Fahmi know that he is retained as Minister of communications.
You consult your, you must consult you guys. You’re supposed to be the experts so give your views so that we are more effective in our communication not propaganda It’s not a propaganda machinery just telling what is actually at stake in this country. What we are doing and possibly even our limitations what we have not done I’m fair I’ve always considered ourselves a team that’s been struggling time to do our best but we have our limitations, probably mistakes even.
The difference is we are able to we can easily accept that and we are in the position to try and improve it’s not a matter of just facing the elections but I think more critical this fabric of this nation the because whatever is being done you see past statements on Wilayah Persekutuan you want to be a national party working with the people you can express “Hana can you assure us they will protect the interest of the Malay poor?” I can accept that but to reject a person because of her color or race this is atrocious in these days and age and sometimes I can’t understand the level of tolerance of some of our people.
When the groups are blatantly or possibly considered most corrupt in decades they get away because of the sympathy. Okay cukup, I’m not angry I’m just expressing I’m just expressing a point. Thank you.
SOALAN 2: FARRAH NAZ KARIM (NEW STRAITS TIMES)
Assalamualaikum Dato’ Seri, congratulations on your reshuffle yesterday. Dato’ Seri, if it’s not too much to ask, would you mind sharing with us the thinking behind the changes of every single Minister and Deputy Minister and the dropping of the three?
JAWAPAN 2:
So, reshuffle means you cannot drop? No. If you see the overall scenario, you can see the placement of new people are mainly young. You have Taufiq (YB Dr. Mohammed Taufiq bin Johari), Akmal (YB Tuan Haji Akmal Nasrullah bin Mohd Nasir), Mustapha (YB Datuk Ts. Mustapha Sakmud), the younger crowd, Arthur (YB Dato’ Sri Arthur Joseph Kurup), relatively much younger.
Second, third generation, I think most of them in their 40’s and Taufiq is 29 and the rest is in their 30’s. I think it’s time that we project that. Why? I wasn’t able to do that initially because we want to make sure that the coalition can be fortified and consolidated. But now, I think we are strong. So, I think let them have their chance.
Dato Na’im did his best, he works hard, he tries, he set his agenda for the religious institutions, okay. But I think it’s time that he serves other functions and a younger team to be more forceful, more inclusive in that sense.
Similarly, Zaliha. Zaliha has been strong in the party from the beginning, and as Menteri Wilayah has worked very hard, broke some of the cartels among the traders and petty traders. And that took a lot of guts, and she did well. But I thought she would also understand that I have limitation, I can’t go on expanding the numbers. So, I need to make sure that she continues some of her advisory role and then get the new faces in. And as you have seen, I don’t replace by some of the established close friends of my generation or the later generation. It’s really a young team. That personally, even within KEADILAN, not too close to me too, but a much younger team. But I thought they should be given a chance. It’s time that this regeneration process continues. Okay.
You don’t look too happy. You must be very close to Zaliha. Zaliha is very close to Azizah, you can understand my predicament.
SOALAN 3: SEIICHI OSHIMA (JIJI PRESS)
There will be an ASEAN Foreign Ministers’ Meeting on the 22nd on next Monday, and could you explain a bit about the reason why you propose to organize the meeting, and what’s your instruction to THE Foreign Minister, and what do you expect from the meeting?
JAWAPAN 3:
Thank you. I don’t give instructions to the Foreign Ministers but you see, we are in communications virtually daily. Not today, except today I have not called both, and although Prime Minister of Cambodia waiting for my call.
We are in communications. We are appealing to them to immediately stop these frontline offensives and, if possible, immediate ceasefire. Although they don’t like the term ceasefire because it would connote their agreement. So, if you look at my statement, I said “I urge the parties to observe these truce”. And then following that, of course, President Donald Trump called and then updated me. And I told President Donald Trump that it is important to convince them to then just stop the offensive. That’s it.
Then we fixed a date for the Foreign Ministers then both the Prime Ministers alerted me and they said probably it’s a bit too soon because there’s no point meeting before they are able to slow down the tension, then ease the tension. So, the proposal is to have on 22nd in Kuala Lumpur. So, from my understanding, the Foreign Ministers will come deliberate on this, so they will know the facts. Our duty is to present the facts. But more important is to impress upon Thailand and Cambodia that is imperative to secure peace and to seek the advice of Thailand and Cambodia of what else do we need to do. They agreed on AOT, ASEAN Observer Team that our Chief of Defense Force, Chief of the Armed Forces will be leaving for the border in the next few days, even to, you know, continue to engage.
So, at different levels, I speak to both Prime Ministers and President Donald Trump. The Foreign Ministers communicate at the level, the Chief of Armed Forces at the level. So, we are continuing. I’m, as you say, cautiously optimistic because when I speak to both the Prime Ministers, both are keen to achieve an amicable resolution as soon as possible. So, hopefully by 22nd we can seal this sort of understanding. But this is for Thailand and Cambodia to agree.
SOALAN 4: ZUNAIRA SAIEED (THE NEW YORK TIMES)
Dato’ Seri, just want to ask you a question on there has been a lot of cases on public morality lately. We had a Malaysian girl group banned where their video was pulled down because the Religious Affairs Minister said that they were wearing too sexy clothes. And then recently there was mother and daughter who was denied service at the police station. So why are government officials behaving this way?
JAWAPAN 4:
Part of it we have resolved, for example this issue of police reports and we discussed it again today. To me it’s not right to deny any person. For example, your house being burnt or somebody is trying to kill your family members and then you say “go back and get dressed and come back”.
It just doesn’t make sense. So there have been an instruction from Minister of Home Affairs, the Police Chief and the Chief Secretary. So, hopefully this is clear. This also relates to our understanding of religion. Some of the extremist voices would want demand certain things that would portray more Islamic. You do that, but the context is never understood. Of course, you ask me some people coming to my office. I mean, I don’t want to come in bikini. Nobody have tried that yet. I don’t know, Ashwad can bring somebody from Astro Awani or whatever. No, I’m joking.
You know, police report for a girl to come to lodge a police report, something critical. They just don’t come in as a part of leisure. So that part has been resolved.
Similarly, when it comes to issue of some of these popular cultures, of course you must appreciate that probably in our society some form of code is understandable. I mean, I’m not suggesting that we are too liberal to the extent you can wear anything. No. But I think we shouldn’t overstretch this and I think the general consensus to advise the Minister and authorities too.
Once you can give certain guidelines. But I don’t think you’d be like moral police or so to the extreme. I agree. But you know, it’s very appreciative. If you sound a bit too conciliatory or too tolerant, you’ll be attacked by another factor. Finally, you have to draw the line to see that if it’s really excessive, then probably.
I mean, it’s not new. Even before, for example, we have strongly discouraged shows during Maghrib time, for example, which is fair. People accept that you can start at 7:30PM, prayer time is 7:10PM. You start at 7:30PM. People do accept that. But you overstretch to for them you’re going to wait for after Isha. Then you start at 9:00. Things like that. There must be a limit. Because Maghrib is limited time, 7PM to 8PM, for example. Isha from 8PM to 4PM in the morning.
So, I don’t think you should cross that. So, this is where I think the authorities must not be too overboard. All these things. I agree. And I think for next year we have to make it very clear. There must be some. After all, if you don’t want to go, don’t go la. You tak mahu tengok. Dulu I ingat masa I was Minister of Education. I think the programme was Sheila Majid in University of Malaya. So, the pro-PAS guys demonstrated, start throwing flower pots. And so, I said to them, number one, you throw flower pot and break, you have to pay for it. Number two, you don’t like Sheila Majid? Don’t go. Don’t go.
So, there must be but to ban the show, that’s ridiculous. By the way, I follow “Lagenda”, I know the song, so I’m not complaining. But as an example, it’s not new. This was I’m talking about 1987-1988 when I was at Education Minister. So, there were tough. Of course, the university that suspended them. I gave them a reminder that the sentence are a bit too harsh.
So, this is an example that you must draw the line. But you concede this sort of like a Taliban culture pun tak boleh juga. So, there must be some measure of tolerance. I can understand if it’s shown somewhere in some villages, tak sesuai, tak apa. We have to navigate this carefully. But I agree with you. I don’t think that we should push the agenda too far. And Ministers, including Religious Affairs Department must realise that dakwah means to encourage them, to talk to them, to make them understand, not everything through punitive action and legislation.
SOALAN 5: DATIN PADUKA ESTHER NG SEK YEE (THE STAR)
Dato’ Seri, two questions. With the reshuffle, are you saying that you are very satisfied with the… I’m choosing my words very carefully, are you very satisfied with the performance of the ministers who are holding on to their current positions?
Number two, I want to ask about the Malaysian Media Council. One of the main agendas of the council is to self-regulate. Do you agree that with the setting up of the Media Council, the media are more shackled in a way because now we have the code of conduct, committee of which both me and Farah are heading.
Because now, apart from the council, we still have PPA, we still need licensing, we have to adhere to MCMC rules as well. There are so many rules, defamation lagi kan. I’m just wondering what are your plans?
JAWAPAN 5:
You always ask difficult questions. The first one, Cabinet. Of course, nobody is perfect and I said this in the first cabinet meeting. We have the humility to acknowledge our weaknesses and the growing expectations of the public that we improve ourselves and try and excel that. Having said that, am I fully satisfied with the performance? I mean, they can ask about me too. I have also my limitations, given the chance if I have full authority, I would certainly do it differently but I’m in a coalition. I want to make sure that the government is stable. It’s also important.
This is some people clamouring with them absolutely for or voicing the interest of one party. They forget the fact that they are in the coalition, you know. You have to build that consensus, maybe draw the line, governance, no corruption. Okay, fair, but then to insist on this peace, reform, to satisfy everyone is very difficult.
I did give an example, language. The one factor in the Dungun and Bangsar crowd that one just English or on the conservative belt, they’re just Malay, nothing else. And there’s one of course in the Chinese schools once we see. So you have to really navigate that understanding.
You can be a champion of one group and destroy that sort of coalition spirit, which is also to me critical but what I think your sense that are we fully satisfied? Nobody should be fully satisfied with their own performance. In all humility, I have to acknowledge.
That’s why I say after three years now we have to go to the fast track, faster pace, more effective reforms, okay? People expect that. Okay, people say right, first year, okay lah. Stability, second year, okay, you start reform, third year now. Now, we expect you to do more.
I concede. But you know, coalition is a coalition, is still… like for example, it’s like putting the Chinese minister of Wilayah which to me is inconsequential because she represents the government, the policy. She doesn’t represent DAP, she represents government. I don’t represent KEADILAN in government. The policies are going to be broad-based, so we have to grapple with this. That’s number one.
Number two, about the media. I agree, I mean the whole idea of having this council is to give more space towards freedom, towards media freedom but as always, we say unbridled freedom.
I mean, you go and accuse people, I mean, I mean, people ask, oh, Anwar, why are you not taking up cases? People say, I’m Israeli agent. I mean, do you allow that? Oh, then I have to then sue. So you want me to spend half my life as Prime Minister in the courts.
So what do I do? I just lodge a report and the police takes the reaction. It’s not freedom. People criticize me every day. I don’t take action. They attack now on the appointment, the ministers, I mean, to me it is a political affair. We will have reserved our right to reply and respond.
So the code of conduct I think should not be. I’m not familiar with the details, but I agree with you. It should not be seen to be too restrictive to the whole idea of media freedom. Because the whole idea of media freedom, as I understand from the beginning, is to ensure that they feel responsibility, they manage themselves and they know the limits. Fair. But I agree with you, it should not be perceived or more so, affect this whole vision of freedom, media freedom position or policy that we strongly urge. Alright.
SOALAN 6 : ZAMRI RAMBLI (SINAR HARIAN)
Assalamualaikum Dato’ Seri saya ada dua soalan. Soalan pertama, since hari ini adalah IMBASAN 2025 mungkin satu soalan yang saya nak tanya ialah bagaimana Dato’ Seri merangkumkan tahun 2025 daripada perspektif Dato’ Seri lah sebagai Perdana Menteri, memenatkan, mencabar lebih baik pada 2024 ataupun yang macam mana lah daripada Dato’ Seri.
Soalan kedua berkenaan dengan reshuffle juga lah bagaimana harapan Dato’ Seri ataupun KPI yang Dato’ Seri letakkan untuk Kabinet baru ini memandangkan mungkin ini adalah Kabinet yang akan mendepani next election lah. Itu dua soalan Dato’ Seri, terima kasih.
JAWAPAN 6:
Soalan pertama Kalau 2025 saya ingat kita lihat pada fakta dan langkah apa dasar utama kita tentang reform Parlimen belum pernah Parlimen dengan jawatankuasa penglibatan pembangkang sepertimana kita lakukan sekarang.
Kemudian tanggungjawab fiskal, bila Menteri Kewangan menyerahkan kepada Parlimen pertanggungjawaban. Kemudian, undang-undang yang banyak dipelopori oleh Azalina sebagai Menteri itu sangat bermakna bukan satu, tujuh, lapan dan untuk berikutnya beberapa undang-undang yang disebut Freedom of Information, Whistleblowers dan sebagainya.
Kemudian, dasar ekonomi selain daripada pelaburan, pertumbuhan semua itu kita ada yang 2025 kita berjaya kerana penyasaran subsidi yang tidak membebankan rakyat tetapi mendatangkan hasil dan mengelak daripada ketirisan, itu besar.
Dibincang oleh Menteri dan Perdana Menteri sejak 20 tahun lebih dah dengan subsidi tidak ada yang berani buat yang kita lakukan dan ini menyebabkan kita selamatkan wang banyak dan kita pula tidak ambil pendekatan yang dicadangkan oleh beberapa kononnya pakar ekonomi yang suruh naik harga minyak, tak naik, ini hanya untuk orang asing. Kemudian, ada beberapa yang lain.
Jadi saya angka-angka pertumbuhan, tapi, concern ialah tentang pendapatan rakyat ini kita mulakan dengan Penjawat Awam, kenaikan yang paling tinggi dalam sejarah. GLICs, gaji minimum RM3,000 – RM3,100 untuk semua GLICs. Jadi kita tekankan supaya sektor swasta juga sambut gaji minimum daripada RM1200 naik RM1700, ini tidak mudah, saya pernah cuba naik, tidak berani nak naik kerana bantahan daripada konglomerat, peniaga besar.
Baik, apakah kita puas hati? Kos-kos sara hidup memang ada betul kita kata international phenomena, tapi kita cuba jalankan macam kita buat Sumbangan Tunai Rahmah, STR, Tunai Rahmah dengan SARA itu RM15 bilion, sumbangan kembali kepada rakyat kerana untuk menampung kos sara hidup.
Cukup? Belum. Tetapi ini langkah-langkah yang diambil yang belum diambil sebelumnya. Jadi apa kekuatan kita ketimbang pembangkang dia boleh bicara, tetapi masa dia ada kuasa, dia tidak buat ini selalu nasihat saya kepada pembangkang dan orang-orang yang telah bersara Mantan Perdana Menteri, Mantan Menteri.
Cabaran terbesar adalah masa kita ada kuasa, masa ini buat. Kamu dah jadi Menteri, Timbalan Menteri, Perdana Menteri masa kamu berkuasa, apa yang kamu buat? Sekarang kamu berleter sana, mengeluh sini komen sana sini, boleh, ini negara bebas. Kamu boleh suarakan tetapi orang tanya, yang kamu buat apa? Jadi ini yang saya cabar pimpinan kita iaitu masa kita ada kuasa masa inilah buat sebaik mungkin.
Jadi untuk 2025 itu dia, rencana kita ialah dan peringatan Menteri dengar dan yang munasabah cuba selesaikan dan biarlah bagi gambaran yang agak sopan Menteri-Menteri ini dan dengar dengan baik dan cuba perbaiki prestasi kita. Itu yang saya nasihatkan petang tadi.
SOALAN 7: NORMAN GOH (NIKKEI)
In 2025 you have often argued that ASEAN must remain central and proactive amid global fragmentation. And you’ve also called for ASEAN reforms and all that. 2025, not an easy year for you, but it also showed a successful ASEAN championship.
And now faced with another difficulties with Thai in Cambodia. Looking back, you know, how do you look and do you where do you think that ASEAN demonstrated real agency where structural limits most evident? That’s question number one.
Question number two. Malaysia’s economic indicators have shown really good numbers as well. Ringgit has strengthened the highest in the four and a half years. We are also one of the largest when it comes to certain markets.
Are you ready to call for a General Election next year? Since the numbers are doing pretty well for you. Thank you, Dato’ Seri.
JAWAPAN 7:
Oh, ASEAN. I think ASEAN, the team, Cabinet Ministers, Civil Servant, the private sector, we played, I mean all of us as a team played a wonderful role. We had very meaningful successful ASEAN — GCC — China, ASEAN plus in other countries, conference.
We were at least able to a large extent, to try and contain the escalation of the rift between Thailand and Cambodia. Although it’s still continuing, but we continue to engage. As I said, I remain optimistic by the 22nd (of December) it will be more meaningful results. The outcome of the meeting, Foreign Ministers Meeting. That’s as far as ASEAN is concerned.
But, ASEAN as you know, is a loose gathering of governments in the region. We have some meaningful things like digital connectivity, power grid. These are major intra-ASEAN trade. The commitments are there.
The elections, we still have a long way to go. I have not thought about elections. I am now focusing on how do we continue to implement reforms and alleviate the problems faced by the rakyat, particularly with the higher cost of living. Those are the two central focus for next year. And I think although things are relatively better now, it will be better later. Insya-Allah. Thank you.
SOALAN 8: EBRAHIM HARRIS (AGENCE FRANCE-PRESSE)
Good evening Dato’ Seri, Ebrahim Harris from Agence France-Press. I want to go back to the question of Thailand and Cambodia and just ask a little bit more about the engagement that is up and coming next Monday. Could you please tell us a little bit more about what that engagement will look like?
And you also said that the facts will be laid on the table for the two parties. What will be laid on for them, given the fact that Thailand also earlier in the week, I believe, said that it’s up to Cambodia to propose the ceasefire first because they were the aggressors, according to Thailand. And I just wanted to ask you what your position is on that as well?. Thank you.
JAWAPAN 8:
On the 22nd (December), at least to the credit of both Thailand and Cambodia, they have agreed to attend. You see, among warring factions, it is always difficult to get people to come and sit and talk. Here, because it is initiated by Malaysia and ASEAN, they have agreed to attend on the 22nd, and there, the views of the ASEAN Foreign Ministers will be extremely useful to try and persuade both parties.
Now, of course, I am not in the position to cast aspersions or blame any party. My consistent urging has always been to ensure that the peace is maintained, even at the first phase, just to get to stop a cessation of hostilities, and following that, to discuss the parameters mid-term and long term for an amicable settlement. Thank you.
SOALAN 9: SOUTH CHINA MORNING POST (JOSEPH SIPALAN)
I’d just like to do a follow up question to an early question on the Media Council by my colleague Esther. So, considering that the Media Council is supposed to be overseeing how media in Malaysia operates and setting standards for code of conduct and all of that, is the Government considering maybe to repeal older acts like the PPPA and also what some arguably overly broad prescriptions under the MCMC Act that limits how the media can operate? Especially considering you have already existing laws like Sedition Act and Defamation to deal with whatever issues that are deemed not correct. Thank you.
JAWAPAN 9:
Let me be very frank here. I mean, we leave it to the Media Council to give this advice. But what are the set parameters? You must enhance the level of freedom, media freedom in this country. What are the limitations? Still, the race, religious card. To me people say, well, Anwar is not consistent, it’s not true. Majority is something else that’s beyond us. They have insisted that since they are not players, they can respond as other politicians can. So, they want to be given that reprieve. But we continue to use every single issue from race card. These people should be questioned.
Never mind what laws, what amended laws, because to my mind, you can talk about freedom, you can talk about economic growth, but I don’t want to sacrifice that for this country. It sounds reactionary, but I want to use this also to condone some unnecessary actions. I mean there have been some cases where the police took action and I’ve advised them don’t. When it comes to for example, burning Anwar’s photo or calling Anwar, “Turun Anwar”, whatever I said let it be. But of course, there is a limit. When you say you go, as I said just now, he has AIDS, he’s a paid agent of Israel. I mean there are also some limits.
So, I think whilst we should not use these instances to curb freedom, okay. Which means the Media Council has this task of advising them on where are the specific legislation or parts of the legislation or provisions that inhibit freedom. You can advise. Now we’ll certainly convey this cabinet and to YB Fahmi to take up seriously the recommendations.
But of course, we need some very responsible media too, you know. Because everybody’s competing and they can be champion of their various racist affections. It can be nasty for the country. We went through hell. People tend to forget the fact that this is a multi-racial, multi-religious country. So, allow us some space. But you must also draw the line. Is this a statement to curb? No. But at least to recommend to us. What are the limits? You tell us. It’s not the Ministry of Home Affairs. Let the Media Council advise us what you think should be the line to be drawn.
SOALAN 10: NETTY ISMAIL (BLOOMBERG NEWS)
My name is Netty Ismail. I’m from Bloomberg News. I just have a question about PETRONAS. The dividend payout to the government is falling. How concerned is the government about this? And do you expect this trend to continue? That the dividends will continue to fall? And what are the new sources of revenue that you’re looking at to bolster the government’s coffers? Thank you.
JAWAPAN 10:
PETRONAS, as I said is commercial entity. The dividend is according to the performance in the price of petroleum. So, I think we have to accept reality, the country, in order to move forward cannot be too dependent on PETRONAS offers.
So we’ll have to bear with it. We have to create new business entities that could generate more revenue for the government, of course, because we want more dividend but you have to look at the price. What’s happening in the global scenario or the oil and gas industry.
SOALAN 11 : ARDI HERMAN BIN MOHD MARDZI (TV AL-HIJRAH)
Bagaimana Dato’ Seri anticipate progress ke arah pemulihan dan keamanan di Gaza dalam keadaan sekarang ini kita tahu gencatan senjata agak rapuh. There are series of killings on going sejauh mana Dato’ Seri lihat Malaysia akan terus berunding dengan negara-negara Arab, GCC, US, Turki dan sebagainya at the same time menyokong terus gerakan seperti Sumud Nusantara? That’s all, thank you.
JAWAPAN 11:
Terima kasih. Gaza, sebelum itu mengenai Gaza ada macam kita bantu Aceh. Kita bagi 500 ringgit, bagi pelajar yang hilang rumah, hilang harta, hilang buku semua di kampung. Itu pun jadi isu kepada setengah-setengah pihak you know? Saya susah nak faham kemanusiaan apa yang ada. Oh kerana orang kita ada miskin, oh kerana dia Melayu… ada. Ini saya kata bebas, tapi sikap hilang nilai kemanusiaan seperti ini. Saya sebagai anak Malaysia, saya rasa terganggu, terkesan sikit, apa dia masalah? kalau kita bagi ratus juta, satu hal. Ini mungkin cecah ratus ribu atau satu, dua juta, you know? Itulah keadaan.
Macam Gaza itu sampai sekarang saya dengar di Semenanjung, di Sabah, di Sarawak, ‘you know Anwar? You know? Feeding people in Gaza I mean… dana yang kita bagi dalam dua tahun, tiga tahun baru RM100 juta dan walaupun ada inisiatif perdamaian oleh Presiden Donald Trump tapi kita tahu pelanggaran itu berterusan, ratusan pelanggaran perjanjian dilakukan oleh rejim Israel. Anak kecil wanita masih terus dibunuh yang kebanyakannya masjid dan juga gereja dimusnahkan. Apa? Takkan tidak boleh bersuara? Takkan bagi bantuan menjadi masalah?
Jadi saya akan teruskan. Ada inisiatif dari Presiden Abdul Fattah El-Sisi dari Mesir untuk minta kita turut menjadi Co-convener Sidang Pemulihan dan Pembangunan Gaza. Tentunya pada dasar kita setuju tapi sidang itu masih tertangguh kerana akhir tahun sukar mendapatkan korum bagi pemimpin-pemimpin dunia Arab dan dunia Islam.
Tapi saya nak beritahu kita akan terus mendukung sekadar-kadar kita, bantuan kemanusiaan dan suara untuk mempertahankan. Saya dalam Beast itu pun, dalam perbincangan dengan Presiden Trump, saya sebut tentang Gaza. Presiden Trump tak adalah bantah teruk sangat, tapi ada setengah-setengah orang yang lebih Trump daripada Trump di sini, dia marah lebih daripada Trump.
Trump, saya beritahu saya sopan dengan penuh hormat tapi beritahu mengapa saya memilih untuk pertahankan hak Gaza dan Palestine dan soal kemanusiaan dan mengapa kita sangat konsisten mendukung. Tak ada pula dia marah, sebab itu putus hubungan… tidak-tidak.
Tapi masih kedengaran suara-suara begini dan saya minta maaf kerana saya kurang dapat mengerti apalagi kalau orang itu bercakap soal agama, soal kemanusiaan, tapi tidak ada ihsan dan compassion.
Sekali saya ucap terima kasih dan selamat bagi yang merayakan Krismas, itupun ada orang marah juga, cakap tidak boleh Krismas, aku pun tak reti (nada berseloroh).
Semangat tahun baru ‘eh, siapa yang cakap tahun baru, bukan tahun baru Islam’… pun salah juga. Jadi nak kata apa? Selamat (nada berseloroh)? No, so maknanya you do what is right. I will still continue to wish orang yang pengamal agama Kristian selamat menyambut Hari Kristian, hari Krismas atau di Indonesia sebagai Hari Natal, kemudian tahun baru.
Tak apa kita akan sambut juga tahun baru Islam tapi tahun ini baru, tahun baru Masihi, tahun baru Nabi Isa tak adalah salahnya. Tapi ada orang pertikai tahun baru ke tidak, tak apalah untuk orang lain pertikai, tapi saya nak ucap selamat, terima kasih atas semua kerjasama, dukungan, teguran, kritikan, sanggahan, komplotan dan terima kasih banyak kerjasama yang diberikan dan saya harap kita akan mulakan tahun depan itu dengan lebih jelas pendirian kita, lebih tegas pendirian kita dan lebih berani dalam membawa agenda reform dan juga menjamin kemaslahatan rakyat.
Terima kasih.
KUALA LUMPUR, Dec 16 (Bernama) — Prime Minister Datuk Seri Anwar Ibrahim has expressed hope that the new MADANI Government Cabinet leadership lineup will work with great commitment and responsibility, thereby ensuring the welfare of the people and the interests of the country remain a priority.
He stressed that the trust placed in them must be carried out as best as possible to make the country’s development and reform agenda a success.
“I would also like to express my appreciation and gratitude to the leaders who were with the MADANI Cabinet previously for their services, contributions and commitment in making the country’s reform and development agenda a success,” he posted on Facebook today.
Earlier, Anwar announced the appointment of new ministers and deputy ministers, as well as several portfolio realignments, to fill the vacancies in the Cabinet and suitability needs.
Among those involved in the reshuffle were the appointment of Datuk Seri Johari Abdul Ghani as Minister of Investment, Trade and Industry (MITI) from Minister of Plantation and Commodities and Hannah Yeoh as Minister in the Prime Minister’s Department (Federal Territories) from Youth and Sports Minister.
The reshuffle also saw six deputy ministers and one new face elevated to full ministerial rank, including former Deputy Minister of Energy Transition and Water Transformation Akmal Nasrullah Mohd Nasir being made Economy Minister and Sungai Petani Member of Parliament Dr Mohammed Taufiq Johari being appointed as the new Youth and Sports Minister.
— BERNAMA

PEMBERITAHUAN PERTANYAAN DEWAN NEGARA
MESYUARAT KETIGA PENGGAL KEEMPAT
PARLIMEN KELIMA BELAS TAHUN 2025
PERTANYAAN : LISAN
DARIPADA : YB SENATOR TUAN AMIR BIN MD GHAZALI
TARIKH : 16 DISEMBER 2025 (SELASA)
SOALAN:
Minta PERDANA MENTERI menyatakan langkah Kerajaan dalam memperkukuhkan integriti dan ketelusan penguatkuasaan undang-undang bagi mengekang penyalahgunaan kuasa dan ketirisan dalam Agensi Penguatkuasaan termasuk PDRM.
JAWAPAN
Tuan Yang di-Pertua,
Izinkan saya memulakan dengan menyatakan penghargaan kepada ahli-ahli yang berhormat di Dewan Negara kerana memberikan persetujuan dan kelulusan belanjawan negara 2026 semalam izinkan saya juga untuk memberikan sedikit penjelasan tambahan kerana isu ini isu yang banyak dibicarakan oleh rakyat tentang integriti badan-badan penguatkuasaan termasuk Seruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia (SPRM), Polis Diraja Malaysia (PDRM), Lembaga Hasil Dalam Negeri (LHDN) dan Agensi Kawalan dan Perindungan Sempadan Malaysia (AKPS) dan lain-lain.
Jadi saya ingin jelaskan pertamanya untuk memberi jaminan bahawa isu integriti ini utama kalau tanpa integriti tidak mungkin nilai rampasan lucut hak serta kutipan penalti berjumlah RM15.5 bilion dapat dicapai ini kali pertama dalam sejarah negara ini dan ini juga memberi gambaran bahawa sebelum ini nampak ada kelonggaran, ada kelompongan mana mungkin dalam satu negara kita mampu mengutip RM15.5 bilion dari ketirisan, rasuah, penyeludupan dan lain-lain.
Dari jumlah ini SPRM telah mengumpul jumlah nilai lucut hak berjumlah lebih RM8 bilion tapi sepertimana kita sedia tahu beberapa isu yang dikaitkan dengan politik itu dihebahkan tetapi tindakan-tindakan tegas SPRM terhadap perasuah-perasuah ataupun yang dianggap perasuah besar Itu kadang-kadang tidak mendapat dukungan malah ada pembelaan termasuk beberapa ahli jawatan rakyat sendiri.
PDRM melibatkan nilai rampasan hasil penyitaan berjumlah hampir RM4 bilion Jabatan Kastam telah berjaya menumpaskan sindiket haram dan penyeludupan dengan nilai rampasan berjumlah lebih RM2.5 bilion dan KPDN, Suruhanjaya Persaingan Malaysia, MyCC membuat rampasan dan kutipan penalti berjumlah RM1 bilion.
Ini termasuk langkah-langkah penguatkuasaan yang lebih berkesan termasuk AKPS. Sekarang ini, Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia tentunya ada beberapa kelemahan yang tidak boleh kita nafikan tetapi untuk kita memberi gambaran yang negatif saya tidak fikir adil, ini terutama terhadap PDRM.
PDRM dalam semua tindakan seperti yang saya bacakan tadi telah menunjukkan keupayaan mereka melalui proses integriti ini memperolehi jumlah yang besar untuk negara maknanya tindakan mereka terhadap penjenayah penyeludup yang melibatkan tindakan tetapi persepsi itu pun umpamanya saya sendiri dengar dan saya percaya ramai ahli-ahli yang berhormat bahawa kematian dalam tahanan sejak 2024 ini melibatkan majoriti satu kaum.
Kenyataannya itu disebaliknya faktanya kematian dalam tahanan sejak IPCC ditubuhkan 2024 jumlah 57, Melayu 25, India 4, Cina 9, warga asing 15, Bumiputera Sabah dan Sarawak 4.
Sebab itu saya ingin jelaskan, sekiranya ada kes-kes di mana ada keterlanjuran tindakan oleh polis, siasatan rapi tetap dilakukan. Saya beri contoh kes yang terkini, yang menimbulkan banyak persoalan tentang kematian tiga yang dianggap penjenayah tegar di Melaka.
Siasatan rapi dibuat dan saya dapat jaminan daripada Ketua Polis Negara dan Ketua Jabatan Siasatan Jenayah bahawa siasatan rapi dan telus tidak ada tolak ansur dan laporan telah mereka kemukakan kepada Peguam Negara hari ini untuk tindakan lanjut.
Tapi kita kena bezakan di antara ketelanjuran polis yang tidak boleh kita abaikan dengan tindakan penjenayah-penjenayah yang tegar. Jangan lupa Yang di-Pertua tiga bulan yang lalu, seorang anggota polis ditembak selepas ditikam dari Perak. Di kedah bila ada laporan pecah rumah, bila polis datang siasat, dia langgar mati. Empat hari lalu, di Batu Caves seorang yang telah didakwa di bawah 326 melanggar polis.
Orang ini telah dapat ikat jamin sebab itu kita dalam menuntut polis menjalankan kegiatan mereka dengan rapi, mengikut undang-undang, jangan sekali-kali bagi gambaran kita lemah dan tolak-ansur terhadap penjanayah yang tegar, yang berkeliaran.
Jumlahnya terlalu kecil jumlah penduduk 34.5 juta, jumlah ini tidak sampai 0.5% daripada jumlah rakyat di negara kita. Sebab itu, langkah-langkah EIC dan IPCC itu diberikan supaya sekiranya masih belum ada yang berpuas hati, masih mampu merujuk kepada IPCC untuk tindakan lanjut.
Terima kasih.
SOALAN 1 (TAMBAHAN 1): YB SENATOR TUAN AMIR BIN MD GHAZALI
Yang Amat Berhormat Perdana Menteri sering menegaskan budaya berani melapor. Bagaimanakah kerajaan menjamin perlindungan kepada pemberi maklumat (whistleblower) dengan izin, dalam agensi penguatkuasaan agar mereka tidak dikenakan tindakan balas secara halus ataupun terbuka? Dan di atas prinsip tiada siapa kebal undang-undang, bolehkah Yang Amat Berhormat memberi jaminan kepada Dewan ini bahawa prinsip tersebut akan diterapkan tanpa kompromi walaupun melibatkan pegawai kanan atau tokoh berpengaruh.
Terima kasih.
JAWAPAN
Terima kasih Yang Amat Berhormat. Soal melindungi hak whistleblower itu memang terjamin. Melindungi maknanya bukan sahaja mereka itu tidak diambil tindakan tetapi juga dikawal keselamatan mereka dan keluarga mereka supaya jangan dianiaya oleh penjenayah.
Tetapi adakah kekeliruan dalam negara kita? Sekarang ini penyamun, perasuah pun dianggap whistleblower dan dijadikan hero. Ini masalah, kalau seorang itu curi 1 bilion ringgit, dia kata dia akan beri kerjasama dengan SPRM untuk dapatkan balik 100 ringgit. Itu bukan whistleblower. Itu penyamun tegar.
Sama juga seorang pembunuh. Dia bunuh, kemudian dia kata dia akan bagi kerjasama. Supaya dengan syarat, dia dilepaskan. Dia akan beritahu, katalah tiga orang terlibat. Seorang yang juga antara tiga pembunuh itu. Dia kata dia akan bagi kerjasama. Supaya dia dilepaskan dan dua orang. Itu bukan whistleblower.
Jadi sebab itu, kita harus teliti. Sekarang ini ada budaya di kalangan ahli-ahli politik sendiri yang mendewa-dewakan seorang yang umpamanya mengaku, terang-terang merasuahkan pimpinan politik.
Jadi ini, harus kita bedakan Yang Behormat. Di antara whistleblower yang wajib dibela dan dikawal keselamatan mereka dengan penjenayah tegar yang menyelubungi atas nama whistleblower.
SOALAN 1 (TAMBAHAN 2): YB SENATOR TUAN ABUN SUI ANYIT
Yang Amat Berhormat Perdana Menteri, adakah kerajaan berhasrat untuk menggubal undang-undang whistleblower ini? Kerana supaya ianya tidak disalahgunakan kononnya apabila mereka melaporkan sesuatu sedangkan mereka adalah perasuah tegar. Jadi ini mungkin ada kelompongan di dalam undang-undang kita supaya perkara ini perlu dipinda pada masa hadapan.
Terima kasih.
JAWAPAN
Terima kasih Yang Berhormat, kita ada Menteri yang dipertanggungjawabkan yang sangat tegas dalam hal ini dan sangat cekap dan saya percaya rang undang-undang itu kalau nak diperkemaskan, dibentang akan dilakukan awal tahun depan untuk menentukan kaedah yang tetap membedakan di antara whistleblower dengan penyamun atau perasuah atau penjenayah yang terlindung dengan peraturan ataupun akta whistleblower.
Ini saya percaya Menteri yang berkenaan akan segera membentangkan kiranya ada kelompongan
TEKS UCAPAN
YAB DATO’ SERI ANWAR BIN IBRAHIM
PERDANA MENTERI
SEMPENA
MERAIKAN PENERBITAN BUKU – THE MAN WHO COULD MOVE MOUNTAINS: REFLECTIONS ON THE SOCIAL ACTIVISM OF S.M. MOHAMED IDRIS
15 DISEMBER 2025 (ISNIN) | 11.00 PAGI
INTERNATIONAL INSTITUTE OF ADVANCED ISLAMIC STUDIES (IAIS)
KUALA LUMPUR
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh dan salam Sejahtera.
Alhamdulillahillazi anzala ala abdihil kitaba
walam yaj’allahu wa iwaja wa salli wa sallimu ala rasulihil karim
Wa ala alihi wa sahbihi ajma’in
YB Tan Sri Dato’ Dr. Johari bin Abdul
Yang di-Pertua Dewan Rakyat
Menteri-Menteri;
Yang Berbahagia Tuan Haji Mohideen Abdul Kader,
Presiden, Persatuan Pengguna Pulau Pinang (CAP);
Puan Meenakshi Raman,
Presiden, Sahabat Alam Malaysia (SAM);
Yang Berusaha Dr. Maszlee Malik,
Pengerusi, dan keluarga International Institute of Advanced Islamic Studies Malaysia (IAIS); terima kasih atas penerbitan buku ini.
Ahli keluarga Allahyarham S.M. Mohamed Idris;
Rakan-rakan yang saya muliakan.
Terima kasih.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
- Pernah dulu tatkala meganjurkan kenyataan kenangan Uncle Idris, saya menukil pandangan Roger Garaudy yang menyatakan kalau benar kita cuba menghayati ruang perjuangan seorang tokoh dia bukan “Not to bury the ashes of the dead, but to rekindle its flame”.
- Jadi saya percaya semangat kita dalam mencatat pengalaman bersama Allahyarham Uncle Idris adalah untuk memastikan ada gagasan idea kecil dan besar dari pengguna biasa kegagasan antarabangsa. Sepertimana saya pernah singkap dulu dalam kenyataan dan juga dalam pengantar buku ini, itu pengalaman peribadi saya dengan beliau, sopan, tapi keras, tapi tidak sinis.
- Jadi bagi rakan-rakan yang menganggap mereka itu juga aktivis sosial seperti saya harus belajar daripada beliau rakan-rakan juga harus belajar. Kebijaksanaan seseorang dalam menyampaikan sikap dia dalam soal-soal dasar, pokok, tidak berganjak. Sebab itu disebut mampu mengugat gunung. Saya boleh tambah mampu embrace ministers and government. Tetapi dia lakukan dengan penuh kebijaksanaan. Semasa saya dalam ABIM, saya ingat jadi menteri, menteri kewangan, dan dipaksa hadir dan sepertimana susah dah tahu, kalau saya hadir dalam sidang anjuran CAP dan SAM bukan saya pergi untuk merasmikan tapi duduk mendengar sokongannya sesi pertama.
- Sesi pertama itu selain daripada kupasan Martin Koh Claude Alvares yang menyanggah dengan keras konsep pembangunan dan jadi tentu kerana saya satu-satu menteri yang berani hadir. Saya terpaksa mendengar menelan semua teguran itu dan tahun depannya bila saya diberi kesempatan merasmikan sidang berikutnya saya akan jawab saya tunggu setahun untuk jawab. Dan selepas itu dalam sesi yang saya dengar ada serangan baru, tetapi sedikit pun tidak umpamanya menggugat atau mempersulitkan hubungan baik kita.
- Uncle Idris akan menjadi sosok penenang mengingatkan kita bahawa, mengingatkan saya terutamanya untuk mendengar dan cuba sekadar yang mampu untuk memperbaiki. Pandangannya jelas, keras, tapi dia tahu keterbatasannya kerana kefahamannya walaupun tidak menyusun dengan kata-kata dan yang cukup canggih tetapi beliau mendahului beberapa pandangan dan kupasan termasuk konsep negara MADANI itu kerana ia serba mencakupi tidak ada pembangunan tanpa nilai. Tiada kemampanan kalau mengizinkan kesenjangan yang membengkak dan melebar. Tidak ada pembangunan dan erti pelaburan tanpa ihsan dan menyelesaikan beberapa masalah ketempangan dalam sistem pemunggah kekayaan yang diniakmati di segolongan kecil dan membiarkan golongan, sama ada miskin kota ataupun desa, pedalaman, terpinggir, tersisih. Jadi peringatan beliau itu konsisten.
- Tetapi yang saya kagum kerana dalam apa juga kapasiti beliau mengusulkan dengan tuntas, konsisten tetapi dengan sangat bijaksana. Yang maknanya bukan sekadar memberikan gagasan, memaksa orang mendengar tetapi sanggup mendengar berjam-jam dalam sesi dengan beliau, terutama di rumah kerana makanan itu sangat enak. Jadi saya selalu beritahu kepada Aunty dan Uncle Idris, semua kupasan dia dalam Utusan, KOSMO itu harus ditangguhkan sementara kita menikmati makanan yang lazat. Dia kata just shut up and eat.
- Tetapi digunakan sidang itu walaupun masa itu saya sudah Menteri atau Timbalan Perdana Menteri dia tidak melihat saya berbeda. Dia hanya mengasak pandangan terus, pandangan yang selalu diungkap dalam bukan sahaja CAP tapi juga SAM dan Third World Network. Kerana beliau memahami benar apabila juga disebut Dr Mazlee, bahawa kita tidak mampu melihat kekuatan ekonomi kita secara terasing daripada rangkaian sistem global yang tentunya tempang dan tidak adil yang kita lihat umpamanya beberapa jenis perjanjian termasuk peranan WTO, World Bank, IMF dan juga tekanan tarif AS.
- Jadi bagi orang yang mengerti, harus kita mengemudi dengan menjaga perimbangan ini dan tentunya tidak boleh tunduk kepada tekanan luar, dalam masa yang sama tidak mungkin mengatasi masalah hanya dengan pandangan kita.
- Ini keterbatasan yang ada. Tentunya Uncle Idris punya pandangan bahawa apapun keterbatasan yang ada, yang beliau tentunya mengerti, kerana beliau bukan asyik dari politik, beliau mula sebelum aktivis sosial ini yang menjadi sahabat ayah saya Allahyarham Ibrahim sebagai kaunselor Perikatan di Pulau Pinang.
- Jadi melihat umpamanya kencah politik, tekanan perkauman, tekanan kelompok dan beberapa wacana yang bagi beliau tidak membantu dan tidak serasi dengan jiwa beliau. Maka beliau mengikut cerita daripada saya dan ayah saya beliau memilih untuk meninggalkan politik dan menumpukan perhatian dalam aktivis kegiatan aktivism sosial dan tentunya beliau merupakan tonggak dengan sendirinya.
- Saya singgung dulu dalam beberapa majlis dalam mesyuarat Jemaah Menteri, beliau asakkan yang itu kuat, ketua saya pada masa itu selalu menyatakan Anwar you better deal with your uncle. Maknanya dari pemerintah tidak mampu runding dengan dia. Jadi selalu je begitu, Bos saya dulu tidak mudah tetapi jadi dia selalu sebut kerana saya tidak menutup, itu satu hal. Saya tidak pernah umpamanya menganggap beliau itu sebagai satu kelompok yang asing atau bermusuh termasuk isu yang agak sukar bagi saya iaitu bila CAP dan gerakan bawah S.M Idris ini memulakan suatu gerakan yang agak meluas, menentang cadangan awal pembangunan Penang Hill yang tentunya akan bagi beliau akan merosakkan persekitaran dan iklim dan lingkungan dan pada ketika itu amat sukar.
- Saya ke rumah beliau, saya tak tahu masa itu Muhyiddin sekali atau tidak, di mana isu itu hangat dibincangkan tapi akhirnya saya beri jaminan. Saya kata saya boleh sampaikan walaupun tidak penuh berpengaruh untuk kuasa pemerintah itu. Tetapi, Alhamdulillah kerana tekanan itu terlalu meluas. Kempen itu raksasa dan alasan itu sangat kuku. Maka projek itu dibatalkan, projek yang asal dikemukakan.
- Dengan satu tamparan dia boleh menggagalkan projek satu konglomerat dan kapitalis besar dan dukungan Kerajaan Negeri dan tentunya yang juga disokong oleh Kerajaan Persekutuan pada masa itu.
- Jadi tidak boleh kita remehkan peranan aktivis sosial kalau disusun, diatur dengan bijaksana tidak dengan suara kebencian dan sinis dan memperbodohkan orang atau mengingatkan semua orang salah. Tidak! Uncle Idris tidak pernah menggambarkan begitu, dia tapi jalur politik bukan jalurnya tapi sebaik saya bertanding 1982 dia hadir.
- Dia tidak kira parti apa. Sebaik saya, saya di penjara 1998, Azizah bertanding 1999 dia masih hadir dan mengarahkan orang-orang macam Cikgu Azmi turun kampen. Walaupun Cikgu Azmi tidak pandai kampen dan semua kampen dia cakap soal laut dan bukit dan balak dan Pulau Pinang tak ada balak masa itu.
- Tetapi yang saya nak tekankan di sini ialah beda. Ini yang disebutkan social activism. Dia tidak ambil satu sikap politik yang keras. Dia melihat peranan individu sosok yang boleh membantu bawa perubahan dan walaupun gambaran umum hubungan saya dengan dia itu baik, sangat baik sebagai keluarga dan sangat simpati dia. Tetapi dalam pertemuan-pertemuan dengan sosok dan gaya dan lenggok yang sederhana, pandangannya keras, lemas saya dengar tetapi itulah dia, kerana bagi dia ini bukan soal dia, ini soal negeri, soal negara, soal lingkungan, soal keadilan bagaimana di kata Anwar terus di situ sebagai menteri kewangan, pertahankan sistem poprok kapitalis yang mengizinkan penindasan pemerasan hak pekerja.
- Hal-hal itu yang disinggung, dan tentunya saya cuba pertahankan tapi tentunya saya juga menghirup dan menghadam dan tentunya mengesankan juga, walaupun keterbatasan yang ada.
- Sekarang walaupun Uncle SM Idris telah meninggalkan kita, pandangan-pandangan beliau dari segi isu-isu pokok, bukan sahaja persekitaran, lingkungan, hak pengguna. Ini hak orang-orang kecil yang tidak ada dana, tidak ada kekuatan, tidak ada pengaruh tetapi harus diberikan pembelaan.
- Dan itu terpaksa bertembung dengan gergasi dalam sistem ekonomi negara kita yang kemudian didukung bukan semua, bukan sahaja oleh parti pemerintah, tapi banyak didukung oleh pembangkang juga, dan kalangan-kalangan yang sangat berpengaruh. Jadi tidak mudah sebenarnya, tetapi itulah tujuannya ataupun matlamat kita untuk menjana perubahan di banyak kesempatan.
- Saya terangkan bahawanya bila kita lakukan perubahan kalau yang sinis menentang tu apa pun kita buat semua dia tentang. katalah soal rasuah sekarang kalau orang yang dia tidak suka, bagilah alasan apa, orang yang dia tidak suka tu mesti dihukum. Kalau yang lain, yang besar-besar pun diam.
- Sebab itu, berbeza daripada sosok yang namanya SM Idris itu, kita harus belajar. Baik orang dalam politik ataupun aktivis sosial. Saudara bayangkan, orang yang menggondol, memunggah kekayaan berbilion ringgit yang telah merosakkan tonggak sistem ekonomi kita ini. Bila ada tindakan, tidak ada suara, hampir tidak ada suara, memberi dukungan jadi kita seolah-olah mengambil tindakan itu keseorangan walaupun nasib baik yang keseorangan itu sudah jadi Perdana Menteri. kalau tidak, mampus kita, ditelan oleh arus itu, kerana mengharapkan kononnya aktivis sosial dan pembangkang tidak akan ada suara.
- Saya, bagi saya itu memang aneh, aneh sekali malah ada yang meraih simpati. Kamu punggah berbilion dan ini bukan disuarakan oleh saya, puluh tahun, bacalah rencana CAP, roket, harakah, kenyataan-kenyataan, semuanya melontarkan idea, mengapa pemerintah tidak sanggup mengambil tindakan membersih kerana tindakan itu mengizinkan pemerasan, mengizinkan rasuah, mengizinkan kemusnahan lingkungan, semua sekali terangkup, tetapi tidak ada suara.
- Demikianlah kesukaran kita, bukan sahaja sebagai aktivis sosial, tetapi dalam politik. Tentunya dinukil, kutip satu dua isu dan diperbesarkan yang akan mempamerkan kelemahan. Tetapi dalam tindakan-tindakan yang besar, yang mahu mengasak sistem bobrok ini supaya lebih bersih. Kita boleh ambil tindakan kepada ribuan sarjan dan koperal polis. Tidak sama dengan satu tindakan kepada konglomerat yang memiliki berbelas bilion ringgit. Kerana mereka ada pengaruh. Bukan sahaja orang politik takut dengan mereka, Aktivis sosial pun ada yang takut dengan mereka.
- Media dikuasai, sistem perundangan dan polis, penguatkuasa juga juga mampu dipengaruhi, saya ingin lontarkan ini kerana saya kenal ayah saya dan saya tentunya, sosok SM Idris ini, ini kelainan. Boleh senyum, berbaik dengan semua, tetapi tidak pernah berganjak dalam isu-isu pokok dan prinsip dan ini kita perlukan. Jauh lebih baik daripada keupayaan saya.
- Saya berikan pandangan terhadap kehebatan sosok namanya SM Idris itu kerana bagi saya, dari segi tuntasnya, dari segi keberaniannya dari segi kesederhanan hidupnya itu, tentunya jauh lebih baik daripada apa yang saya mampu.
- Tetapi sekurang-kurangnya kita harus diperingatkan dan saya terima kasih Claude Alvares pun ada, Claude Alvares tu sosok yang keras ye, saya harapkan dia ada di sini, saya nak minta dia berucap dulu baru saya boleh jawab. Sudah 30-40 tahun dulu saya berdebat dengan dia. Saya tak mengaku kalah. Dia pun tambah keras. Jadi, tapi kita jadi sahabat dan banyak pandangan beliau itu sebenarnya kita terima dalam sistem termasuk tatanan dunia, termasuk ekonomi yang sangat tempang.
- Jadi mudah-mudahan Allah SWT memberi kekuatan. Pertamanya mencucuri rahmat ke atas roh insan yang bernama SM Idris. Mengenang jasa, pengorbanan dan khidmatnya. Supaya beliau diangkat, diberi keampunan dan diangkat bersama Solihin, tingkatkan martabatnya di sisi Allah SWT dan mudah-mudahan yang sangat bermakna adalah peringatan kepada kita, bukan santai-santai, orang Indonesia bilang basa-basi, sekadar kenang ingat dan pulang, tidak, tapi sosok yang luar biasa yang unik, Epic dan institution in himself.
- Dia apa? Pengguna? Pejuang pengguna? Ya. Menolak sistem boprok, penindas? Ya Jaga lingkungan? Ya. Jadi siapa dia? Dia itu ya, mencintai, apa yang dikata, konsep dan manusiawi itu. yang harus tegak dengan keyakinan, dengan nilai dan dengan mengharmoni di antara manusia dan nature.
Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
TEKS UCAPAN
YAB DATO’ SERI ANWAR BIN IBRAHIM
PERDANA MENTERI
SEMPENA
MAJLIS PENYEMPURNAAN PEMULIHARAAN
SERI NEGARA
15 DISEMBER 2025 (ISNIN) | 12.00 TENGAH HARI
SERI NEGARA, KUALA LUMPUR
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh dan salam Sejahtera.
Alhamdulillahillazi anzala ala abdihil kitaba
walam yaj’allahu wa iwaja wa salli wa sallimu ala rasulihil karim
Wa ala alihi wa sahbihi ajma’in
Yang Amat Mulia Tunku Ali Redhauddin Ibni Tuanku Muhriz, Tunku Besar Seri Menanti
Pengerusi Bersama Yayasan Warisan;
Yang Berhormat Ahli-ahli Jemaah Menteri;
Yang Berbahagia Ketua Setiausaha Negara;
Yang Berhormat Datuk Bandar Kuala Lumpur yang menjadi tongkat membantu;
Yang Berbahagia Dato’ Amirul Feisal bin Wan Zahir,
Pengarah Urusan Khazanah;
Terima kasih kepada Feisal dan seluruh rakan-rakan yang menjayakan.
- Ingatkan pemeliharaan negara ini punyai suatu, menimbulkan perasaan yang mengesankan. Ia bukan saja rangkaian sejarah, menyingkap dan menerusi pengalaman sejarah tetapi memaknai kemerdekaan, jati diri dan menjadikan Kuala Lumpur ini tidak seperti yang pernah… saya hebahkan pandangan Mark Twain bila melihat kota utama Amerika Syarikat sebagai gersang budayanya, maju, teknologi baru, tetapi menurut ungkapan Mark Twain, ‘culturally barren’.
- Jadi, Seri Negara ini memberi makna yang panjang dan mendalam. Tentunya dari sudut sejarah, ia menjadi tonggak kemegahan, kebanggaan, rejim dan elit penjajahan Inggeris.
- Sebab itu, semasa saya muda remaja, saya anggap ini suatu kelompongan, kelemahan. Negara kita merdeka, bapak-bapak ibu-ibu kita menabur jasa yang besar, merempuh kekuatan raksasa Inggeris yang memerdekakan negara. Tapi masih ada simbol yang gagah perkasa atas bukit yang maha tinggi di sekitar Kuala Lumpur yang melambangkan keunggulan penguasa penjajah dan sebab itu kami pada masa itu membantah dan mendesak pada tahun 1982 supaya Kerajaan Malaysia mengambil alih dengan cara proses yang adil, memindahkan tempat warisan penjajah ini ke tempat yang lain, dan ini dia, Alhamdulillah.
- Perdana Menteri masa itu, Tun Mahathir, bersetuju dan kemudian diiktiraf sebagai milik negara tetapi kerana kesedaran tentang erti keunggulan dan keupayaan kita membina suatu simbol yang mengembalikan jati diri itu mungkin kurang. Maka ia agak terbiar ada proses pengendalian swasta yang menyebabkan ia lemah dan luntur.
- Sebab itu, saya hargai benar peranan Khazanah dan rakan-rakan yang membantu memberikannya symbol. Perisiannya itu di antara lain ialah memberi kefahaman tentang sejarah. Liku-liku perjuangan, pahit getir bapak-bapak ibu-ibu kita yang bertempur dengan gergasi besar dunia pada masa itu untuk memerintah negara. Anak-anak yang datang harus didedahkan bahawa negara ini tidak mencapai kemerdekaan yang sering disebut golden future.
- Tidak sebenarnya begitu, kerana sesungguhnya ada liku-liku sejarah yang getir ada harga keringat darah dan air mata dan wajar anak-anak kita memahaminya supaya lebih mengenali dan menginsafi peranan mereka.
- Kemudian, perisiannya itu… Terima kasih sekali lagi Khazanah. Itu penting. Aspek sejarah dan memperkasa seni budaya tempatan dari Semenanjung, Sabah, Sarawak dengan pelbagai keindahannya, kemurnian itu dipaparkan di situ. Diselang seri dengan suara budaya dan seniman dan sasterawan yang memberikan suatu gambaran yang unik tentang apa erti Malaysia dan usaha memupuk kesedaran baru melalui pencerahan ilmu tentang sejarah, kekuatan teknologi baru sekarang yang kita dambai atau dambakan dan juga kekuatan seni budaya yang pelbagai rakyat Malaysia keseluruhannya.
- Maka saya tidak mampu gambarkan betapa bangga saya dengan pasukan yang telah menjayakannya. Saudara-saudara boleh nanti masuk dan melihat sendiri apa yang saya jelaskan, yang saya lihat bulan dua yang lalu itu hamper, hampir siap tapi bagi saya amat mengagumkan.
- Jadi, gambaran bahawa tokoh-tokoh korporat seperti Amirul Feisal ini tidak faham sejarah dan budaya itu dah diketepikan dan nampaknya sudah pandai berpantun dan faham sejarah dan sudah intim serasi sinergi di antara teknologi baru, pembangunan, pelaburan dan pemacuan ekonomi yang segar. Bersama dengan mempertahankan jadi diri, nilai, seni budaya tempatan.
- Suatu aspek yang saya juga sangat menarik ialah berbeda sebagai gedung raksasa elit penguasa, penjajah pada ketika itu yang kemudian kita warisi. Kalau sudah lihat rupanya dalam bab dua. Post-colonial itu yang kadang-kadang kita merdeka. Betul, dan kita lakukan apa yang seupayanya, tetapi jiwa minda, sikap, kita belum cukup merdeka.
- Maka gedung-gedung ini menjadi gedung pilihan golongan elit penguasa. Tidak ada salahnya, tetapi jangan halang rakyat biasa untuk menikmati kemudahan-kemudahan ini. Ini yang menjadi umpamanya pembenturan idea, juxtaposition of ideas di kalangan apa yang kita rasakan, suara kehendak aspirasi rakyat dengan golongan elit penguasa.
- Selama kita merdeka, barangan pulas memiliki gedung yang dulunya milik penjajah tetapi masih kekal sebagai milik elit penguasa baru. Jadi, anti penjajahan itu menolak pimpinan penguasa Inggeris diganti oleh penguasa dengan sikap elitis, sikap yang sebenarnya menghirup seni, jiwa dan budaya asing.
- Sebab itu, selain dari kita mengindahkan, memulihara, memberikan gambaran bahawa Seri Negara itu milik negara keseluruhannya dengan perisiannya, sejarahnya, seninya, budayanya, sasteranya, tetapi yang saya jelaskan tadi, yang istimewa dalam konsep Negara MADANI ialah bahawa ia terangkum. Kalau istilah Amirul Feisal dia kata inklusif. Jadi, keterangkuman ini, inclusivity ini yang menyebabkan kita akan berbeda.
- Maknanya, ruang untuk anak-anak sekolah, anak-anak muda, rakyat biasa itu harus menjadikannya di sini dengan kawalan-kawalan tertentu, ruang untuk rakyat di negara yang merdeka dan berdaulat. Jadi ini keistimewaannya, maknanya kali pertama dalam sejarah, kita saksikan Seri Negara dengan pemuliharaan yang dilakukan dengan cukup teliti dengan kemahiran dan kepakaran tersendiri itu dimanfaatkan oleh semua rakyat di negara, semua lapisan rakyat dan boleh merasa bangga bahawa ini hasil dan makna negara merdeka dan berdaulat.
- Jadi, saya percaya kita boleh atur supaya anak-anak bila datang dan saya yakin kerana saya melihat apa yang diusahakan sebelum ini, itu bagi saya agak menarik. Saya tidak boleh menyebut, saya hanya beri kerangka besar idea, yang lain itu jasa mereka. Kerana saya mengatakan biar inklusif, biar indah, biar pertahankan seni budaya tempatan, itu sahaja. Satu ayat yang mereka catat dalam satu buku. Jadi, terima kasih.
- Jadi, sebab itu saya menyatakan bahawa semangat ini harus ada di kalangan kita, dalam tatkala membicarakan soal kemampanan, pembangunan bahawa manfaatnya itu harus dihirup dan dinikmati oleh rakyat terbanyak dan ini satu permulaan yang baik. Dalam tempoh satu bulan lebih, Kebawah Duli Yang Maha Mulia Yang di-Pertuan Agong diharap akan merasmikan Bangunan Sultan Abdul Samad. Seperti mana yang kita tekankan dalam rangka warisan ini dari Bangunan Sultan Abdul Samad ke Padang Merdeka, Stesen Kereta Api, Daya Bumi, sehinggalah Seri Negara Carcosa dan Taman Botani, itu semua dianggap sebagai warisan.
- Ini memang saya tekankan supaya kita jangan gersang budayanya dan budaya dalam pengertian kita sekarang termasuk kemampanannya, persekitaran alam indahnya, kehijauannya dan ruang bagi rakyat itu mengecapi niakmat kemerdekaan dengan pelaburan pembangunan yang tinggi dan keindahan yang dilakar dan diukir dengan keupayaan tenaga Khazanah dengan kerjasama semua pihak, semua jabatan, Yayasan Warisan, bandaraya dan semua yang terlibat.
- Jadi saya ingin akhiri dengan sekali lagi menyatakan penghargaan yang tinggi, saya tentunya sedikit terharu kerana bila dilihat gedung ini, kalau boleh diizinkan saya cakap sedikit pengalaman. Oleh kerana kita menuntut begitu keras supaya Carcosa Seri Negara dipulangkan kepada Pemerintah Malaysia, iaitu tentunya tercatat dalam semua catatan untuk Duta Besar Pesuruhjaya Tinggi Inggeris. Setiap kali muncul Pesuruhjaya Tinggi Inggeris yang baru dan tentunya saya diundang minum teh ataupun makan bersama dan semuanya dah baca tentang pengalaman bahawa milik Inggeris Carcosa Seri Negara telah dirampas oleh seorang pemuda. Aduh!
- Jadi tanpa kecuritan rekodnya, saya difahamkan masih ada. Saya terpaksa jalankan apa yang saya anggap tugas pada masa itu dan saya syukur Alhamdulillah, saya bangga dengan keputusan dibuat sehingga terjelma seri negara yang indah perkasa ini.
- Jadi terima kasih sekali lagi Amirul Feizal dan seluruh pasukan saya tidak upaya untuk menyebut semua tapi saya tahu yang bekerja bertungkus lumus, yang teliti, kadang-kadang dia termasuk dalam istilah maha teliti, saya pun tidak faham mengapa peraturan yang menetapkan mesti kayu itu, mesti begini teliti sekali dan nasib baik saya tidak terlibat secara langsung kerana saya tidak ada kesabaran itu. Walau bagaimanapun inilah keindahan dan sila nikmati dan sila hebahkan dan pastikan rakyat keseluruhannya dapat mengecapi nikmat. Terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
SPEECH BY
THE HONOURABLE DATO’ SERI ANWAR BIN IBRAHIM
PRIME MINISTER OF MALAYSIA
CHRISTMAS HI-TEA RECEPTION
13 DECEMBER 2025 (SATURDAY) | 4:30 PM
CCM ECUMENICAL CENTRE, PETALING JAYA
Selamat petang dan selamat sejahtera.
Rev Dr Eu Hong Seng,
Chairman of The Christian Federation of Malaysia;
Terima kasih Bishop Julian dan Bishop Ong dan rakan-rakan yang saya muliakan.
- Sebenarnya, Kerajaan dalam Mesyuarat Jemaah Menteri telah putuskan Timbalan Perdana Menteri (TPM) Datuk Amar Haji Fadillah bin Haji Yusof akan mewakili Kerajaan untuk berucap. So, it’s done. Tapi pada saat akhir, saya teliti acara dan beberapa tahun acara sambutan Krismas yang dianjurkan oleh Federation akhir tahun, jadi ramai yang tidak ada. Jadi saya kata, saya tidak ada pilihan. Jadi saya pilih untuk datang sekadar memberikan sokongan. Saya terbang dari Langkawi kerana ada retreat Khazanah yang belum selesai, tetapi memandangkan acara ini sangat penting, saya datang walaupun sedikit lewat, saya mohon maaf.
- So, of course, I come here to express my gratitude. Thanks for your understanding and support. We work as Malaysians. We face the challenges together. I realize now that I’m at the helm, that leading a multiracial country is more complex, more challenging. When I used to come here before I became Prime Minister, I thought it was easier. See, the Bishop didn’t tell me it was complex. They only assured me we continue to pray for his success and manage this country well.
- We have had a series of discussions, but certainly we should be thankful to Almighty because whatever is said and done, this country, despite its being complex, both regional aspirations, racial, religious, it is certainly, one of the most peaceful countries in the world.
- When I was in Langkawi attending these meetings, there were three calls, Prime Minister of Cambodia, Prime Minister of Thailand and President Donald Trump. You can see why is this small, emerging country, emerging economy, has been given some trust and hope. Why? Partly because we are peaceful. They understand it’s multiracial, multi-religious but still it is the beacon of hope in the region and that is I think, precisely the reason why friendly neighbours, including Thailand and Cambodia, place so much trust and hope that we can help ease the conflict.
- Now how do we then sustain this? Your Excellency’s ambassadors are here to your presence. The Christian Federation quite influential for so many representative governments coming here. I didn’t know that. How do we sustain this peace and understanding? How do we make sure that this country was a peaceful nation? But, peace must have its dividends to assure that we do recognize the right of every single citizen that we deal the issues of racism and religious bigotry and place the importance protect the rights of every single men and woman in this country.
- This is of course a major task because every single issue is always interpreted perceived differently according to the dictates and interests of each community. I gave an example yesterday when my remark about how do we deal with this language policy.
- I view this as a language policy, not the Chinese or Malay or English. So, I trying to ease the concerns by saying that, look, why don’t we all accept the fact that in Malaysia we all want to promote Bahasa as a language of instruction and also language of learning. So that in digital technology, AI, we can also teach in Bahasa and the level of proficiency of for all Malaysians in Bahasa should be commendable. Having said that, if there is a general consensus, so there is no anxiety or siege mentality or fear as raised by some quarters of other Malaysia.
- So, we say accept this, which means if you went international school and you Malaysians, allow them to teach Bahasa. One hour a week. Not imposed on non-Malaysians, just Malaysians, okay? Having said that, acknowledge that when we accept another fact that in this globalized world, Malaysia emerging as an important trading nation, embarking on new technology, including digital transformation, we need our young to enhance the level of proficiency in the English language. We must do so not just as an additional curriculum subject, but with the aim of getting our students to master the language.
- This is a very important second language, which means therefore the curriculum in schools, in colleges and universities has to be adjusted accordingly. You see, my approach is not zero-sum game. We start with the national agenda, Bahasa. We acknowledge the importance of English. There are calls among the elites, bangsa elites in particular English, nothing else but English. You don’t realize, then the 80% will go up and say look, these guys have completely abandoned the national agenda. That is why I think crafting a policy, these sensitivities must be acknowledged. So, we have Bahasa and English.
- And not a matter of just continuing the existing program, but to ensure that the level of proficiency. I reiterate this point. We are talking about enhancing proficiency in English language for our own survival, for the survival of our children, our sons and daughters in the global world. And it has been the option in many countries.
- Now having said that, we also have. This is a legacy issue. It’s not my choice, but it’s from the beginning. We have international schools, English as a medium of instruction, and we have Sabah and Sarawak themselves. They have decided to use more English, which is fine. And then we have Chinese stream, and the Tamil stream. What do you do with them? And therefore when I said yesterday, unfortunately it’s not taken in the total context. Those says, oh! look, look, look, Anwar, he’s no longer a reformist, you see, he just talked about Bahasa!
- Please for sake, listen, what I said is what I’m repeating today. Number one, Bahasa, number two English, number three Chinese, including UEC. I fail to understand why there was so much anxiety and anger by saying that, I’ve discarded our national policy. It’s not true, but there is a difference. I don’t believe that we will succeed if the Indians just talk about Tamil education period. And the Chinese government, UEC and ignoring the importance of the Bahasa and English at the same time. Give this allowance as space for our children and our parents to decide.
- And therefore there should be as I said yesterday in the universities curriculum. allowance for Chinese educator to study Chinese in certain subjects at the university level not only in Chinese language or Chinese studies per say, but some other subjects which would benefit us immensely in this competitive world and in the emerging economic power in China, for example.
- So I look at it as something very practical, realistic. I believe that Chinese parents, for example, those who have Chinese school, would also want to make sure that their children will understand Bahasa and be proficient in the English language but if they choose to have this level of competence in Chinese. So, be it and it is the duty our common duty, to support their neighbor and similarly, for those who have decided to go to Islamic studies or faculty of Islamic Studies they can have Arabic some subjects and Tamil for the better.
- So, that was what I said yesterday, but you see the narrative and the debate on the ground, completely silent on languages and other languages. So, just I give an example when I come back to the Christian Federation. There’s just an introduction to show the complexity and you know, we Muslims, Christians here must accept one fact and reality. There is an issue of a battle between those who believe, who have faith, and those who discarded it completely.
- There is moral deficit in this world, among political leaders, among corporate leaders. The issue of moral conscience, moral imperative, seems to be slighted, sliding. This is our challenge. So, we sometimes talk about big religious jargons, even among Muslims, but we condole corruption, endemic corruption. We tolerate those marginalized, oppressed and poor. We allow for perpetrators of injustices and cruelty to continue unabated. So, to me, moral voice, voice of conscience is something that you talk about and we as Muslims need to do. And I think this is a major battle not only in Malaysia, but throughout the world.
- One part, because we are dealing with the situation where there’s, again, as I said is a moral deficit. There can be oppression, it happens to be Arabs or oppression or can there be Chinese or in the recent case, three Indians shot, it is not of concern and I find as a believer myself, difficult to accept or condole.
- Datuk Amar Haji Fadillah bin Haji Yusof is here, I mean as a colleague in cabinet, I was very strong, but you can’t expect a Prime Minister to go and condemn the excesses of some of our forces, except to give specific instructions. There must be transparent, open investigations. It does not matter whether the victim is Indian or Malay or Chinese or Dayak.
- So, I think that is where religious leaders must have this all. I’m not suggesting, therefore, that we don’t have issues or I can absorb from all problems. I do admit and I apologize sometimes we take time some enforcement officers seem to be lacking, but please be assured we do. I maintain this. It’s just not because I’m the Prime Minister therefore I can conceit and condone this, I don’t and I made it very clear my colleagues in the cabinet know that I express with some anger that these things have been tolerated and we don’t want to showcase experience other countries, if you are a minority, you had it.
- This is not the country where you think that there should be training of the majority or training of the minority. This country must stand to certain principles and values and that is why Malaysia must succeed.
- I need your understanding; there has many other issues. Just giving one example, but to assume that we do it is wrong, I do accept, acknowledge some limitations, yes. But on these issues of justice on rights be it the poor, urban poor, those are the majority or the minority, we don’t of course, it’s a free country. Of course, not really free, we have to pray, we Muslims. Accept democracy. And I asked Datuk Haji Fadillah to consider the issues of MA63. Just a wide consensus, I thought that’s what we promised in the past, we have to honour that although it takes time, but it’s not necessarily supported.
- There are many here that resent this and thought that this sort of policies would be at the expense of many other states. So, the engagement is important.
- So thank you, Bishops, for this opportunity because I think this is an opportunity for us to engage. This is an opportunity for us to remind ourselves that this country is still a country that’s tied to some faith and moral values. And I think, in order to succeed we have to have this engagement and value better understanding among one another.
- I do believe is my conviction that the vast majority of Malaysians accept this, regrettably, the small minority, particularly among political religion, some in the civil society they choose to have their voice loud be heard that represents to me a very disturbing trend of racism and religious bigotry under the voice of the majority, those with faith, with moral conscience must be louder, must be more effective and must be thinking, working together. And I can assure you the best of my ability, notwithstanding these criticisms that we are here and will honour our commitment.
- Of course, Bishop was kind if you didn’t talk about allocation. As a good Bishops, he says, you know, I mean, you must treat our guests well, don’t unnecessarily embarrass him or get him to lose his appetite. But I do acknowledge, I mean, though we have not announced everything. I had to inform that it’s not true that we have abandoned that principle.
- We will continue to support and the Federation. I mean, at least because you didn’t ask, I didn’t know what to do. I think Fadillah was smart enough. He whispered to me a few things.
- First, it’s okay for the Federation for the activities particularly to inculcate understanding, moral values, faith, understanding, multi racial understanding. I’ll give immediate allocation RM200,000. Itu kalau kata kecil, silap dia tidak minta. Kalau dia minta tadi RM10 juta pun kita bagi tapi dah terlambat (joking).
- Thank you again for this opportunity, but I don’t actually came without any intention to give these remarks. I thought Fadhilah must have done. But, I thought it was probably good that I choose this forum to discuss with you.
- Thank you to express some of your concerns; to assure you it is my conviction that if you want to succeed as a country, you cannot follow the dictates and experiences of many of our other countries that survive based on this tyranny, extremism and fanaticism.
- That’s applicable to my mind we must be exemplary in terms of the MADANI concept of compassion, of strong values and I look forward to continue working with you.
Terima Kasih.
TEKS UCAPAN
YAB DATO’ SERI ANWAR BIN IBRAHIM
PERDANA MENTERI
SEMPENA
MAJLIS PENYEMPURNAAN DAN PENGOPERASIAN LANDASAN BERKEMBAR ELEKTRIK
GEMAS – JOHOR BAHRU
11 DISEMBER 2025 (KHAMIS) | 12:00 TENGAH HARI
STESEN KERETA API KEMPAS BARU,
JOHOR BAHRU
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh dan salam Sejahtera.
wa salli wa sallimu ala rasulihil karim
Wa ala alihi wa sahbihi ajma’in
Mengadap Duli Yang Amat Mulia Tunku Mahkota Ismail, Pemangku Sultan Johor;
Ampun Tunku.
- Izinkan Patik yang amat mulia Tunku Mahkota Ismail untuk menyampaikan pertamanya penghargaan dan junjung kasih di atas perkenan Tuanku bercemar Duli berangkat ke Majlis Penyempurnaan dan Pengoperasian Projek Landasan Berkembang Elektrik Gemas-Johor Bahru.
- Seperti juga Ayahnda, Tuanku Yang di-Pertuan Agong, Tuanku telah menunjukkan sangat penglibatan dan keprihatinan terhadap seluruh aspek pembangunan negeri Johor dan minat tentang perkembangan ekonomi Johor dan juga negara Malaysia. Jadi bagi pihak rakan-rakan patik, patik menjunjung kasih.
- Saudara Antony Loke, saudara Menteri Besar dan rakan-rakan yang dimuliakan. Projek ini sebenarnya akan menjadi satu lonjakan tambahan, nampak Johor sudah tercatat sekarang sebagai satu negeri yang gagah dari segi ekonominya dengan catatan pelaburan. Bulan lalu, kita sebut tentang kemajuannya, bulan ini tercatat rekod yang jauh lebih tinggi dan jangkaannya, unjuran seperti mana dimaklum oleh Menteri Besar Onn Hafiz, mungkin mencatat RM100 bilion.
- RM100 bilion ini rekod yang seperti mana yang saya sebut dalam pertemuan sebelum ini, tatkala Maharani Freeport, itu dah mengatasi prestasi Pulau Pinang dan Selangor. Patik tidak cemburu kerana ini juga satu negeri yang penting, yang mempunyai potensi besar.
- Minggu lalu, saya bersama Saudara Loke dan Saudara Menteri Besar ke Singapura untuk mengadakan pertemuan dua hala membincangkan langkah-langkah untuk mengangkat martabat rakyat melalui pertumbuhan ekonomi yang lebih segar. Memacu ekonomi itu merupakan salah satu keutamaan dalam pembangunan negara. Jadi kita gunakan jalinan kerjasama dan hubungan baik dua negara ini untuk memastikan Zon Ekonomi Johor-Singapura ini sebagai catalyst untuk mengangkat ekonomi Johor dan dengan sendirinya seiring mengangkat ekonomi negara.
- Hari ini, yang juga kita laporkan kepada Perdana Menteri Singapura, kita selesaikan satu babak yang sangat penting yang menetapkan suatu rangkaian pengangkutan dan jaringan pengangkutan yang diperlukan kalau untuk membangunkan negara dan dalam kontek ini negeri Johor, kita perlukan lapangan terbang, pelabuhan, rangkaian lebuh raya dan pengangkutan termasuk yang agak canggih dalam apa yang kita saksikan hari ini dan kita sekurang-kurangnya hampir melengkapkan prasarana asas.
- Dan cabarannya seperti mana yang saya bincang dengan Menteri Besar, Saudara Onn Hafiz, ialah memastikan manfaat itu dapat menjajar kepada rakyat keseluruhannya. Jadi, rangkaian seperti yang disebut oleh Saudara Loke sebentar tadi, bila ada stesen-stesen yang banyak, maka usaha Kerajaan Persekutuan dan jentera Kementerian bersama Kerajaan Negeri ialah memastikan pembangunan stesen-stesen di kota-kota kecil itu dapat dipesatkan dan dapat memastikan pengagihan supaya penyertaan rakyat termasuk peniaga kecil itu terjamin.
- Ini cabaran kita, jika tidak ada trickle down, ini akan menimbulkan keresahan dan sebab itu saya ucap terima kasih kerana semua stesen-stesen ini seperti mana yang dilakukan dalam ECRL akan menjadi satu pusat kegiatan ekonomi baru yang juga melibatkan mana-mana pelaburan baru tetapi memerlukan campur tangan jentera Kementerian dan Jabatan dan Kerajaan Negeri memastikan pusat-pusat gerai makanan yang indah, yang bersih dan perumahan dan peluang-peluang pekerjaan yang lain yang boleh memberi manfaat termasuk perumahan rakyat di sekitar kawasan-kawasan tersebut.
- Dan ini bagi saya adalah kelainan dalam pendekatan Ekonomi MADANI yang menunjukkan keprihatinan kita bahawa pembangunan itu mesti dilonjakkan tentunya satu tingkat yang membanggakan tetapi dalam masa yang sama ia memerlukan suatu keprihatinan, campur tangan, moral suasion dan juga hidden hand daripada jentera Kerajaan dengan kerjasama pihak swasta termasuk yang besar, misalnya hari ini kita lihat SIPP-YTL untuk memastikan bahawa ada program-program yang dapat memberi manfaat secara langsung di kalangan rakyat di semua peringkat.
- Jadi ini bagi saya penting rakan-rakan yang merancang ekonomi di peringkat Persekutuan dan Negeri mengambil perhatian yang khusus kerana sekurang-kurangnya Johor sekarang sudah bertapak sebagai suatu ekonomi gagah tetapi keistimewaan dan kelainannya ialah kerana pendekatan ekonomi kita itu membawa kepada peningkatan pendapatan rakyat dan juga pembangunan yang lebih menyeluruh.
- Dan oleh yang demikian, saya percaya awal tahun depan umpamanya kita akan lihat program-program yang dicadangkan yang mungkin memerlukan kerjasama dan bantuan Kerajaan Persekutuan dan input dari Negeri dan tentunya titah perkenaan dan nasihat daripada Kebawah Duli Tuanku bagaimana kita dapat pastikan satu program yang hebat dengan pengangkutan canggih dapat memberi manfaat yang lebih menyeru di semua peringkat dan saya tekankan tadi kelainan ini adalah dengan stesen-stesen yang kecil di seluruh rangkaian negeri Johor ini harus menjadi pusat yang boleh menjana kegiatan ekonomi bagi rakyat.
- Selain itu, pendekatan Kerajaan ialah juga mendengar pandangan negeri dalam meluncur, tatkala meluncurkan Rancangan Malaysia ke-13 baru-baru ini, malah dalam Belanjawan Negara, kelainan kita sekali lagi ialah bahawa inilah kali pertama dalam sejarah di mana pimpinan pusat turun ke negeri-negeri, ke semua negeri mendengar pandangan, cadangan, teguran dari pimpinan negeri dan dari situlah kita sesuaikan beberapa program keutamaan kerana apa yang kita fikirkan keutamaan di Putrajaya tidak semestinya memenuhi selera Johor, terutama Johor.
- Johor ini ada pengaruh yang lebih kuat tetapi yang saya nak tekankan di sini ialah bahawa pandangan Persekutuan itu kemudian mendengar pandangan negeri kemudian kita ubah suai keutamaan. Saudara Anthony Loke tahu dalam Jemaah Menteri ada beberapa keputusan kita yang kita ambil dulu yang kita pinda Tuanku. Kita pinda setelah mendengar input dari negeri kerana bagi saya pengertian participatory democracy itu adalah mendengar dengan semangat musyawarah kerana saya tidak fikir mana-mana kelompak sama ada di negeri atau di persekutuan yang boleh mendabik dada menganggap kita mempunyai penyelesaian dalam semua masalah, tanpa mendengar dan mengubahsuai beberapa pandangan kita.
- Jadi itu dari segi kerangka merancang kegiatan ekonomi dan hari ini saya tidak bermaksud menjelaskan lagi tentang Projek Landasan Berkembar Elektrik Gemas-Johor Bahru ini jelaskan sedikit oleh saudara Anthony Loke, dan saya tidak mempunyai kepakaran dari segi kejuruteraan, menerangkan aspek-aspek yang canggih tetapi menunjukkan saya turut syukur ke hadrat Allah SWT dan bangga kerana siap dan kita boleh jadikan ini sebagai suatu, sekali lagi model pembangunan yang baik dan hebat. Bukan sahaja bagi negeri Johor bagi negara Malaysia sepenuhnya dan kita manfaatkan kemudahan-kemudahan ini supaya menjana pertumbuhan tambahan dan mengangkat martabat negara kita.
- Jadi sekali lagi saya ucapkan terima kasih dan menjunjung kasih kepada Kebawah Duli Yang Maha Mulia Tunku Mahkota Ismail, Pemangku Sultan Johor kerana sudi mencemar duli dan menyerikan lagi majlis ini menjadi satu tahap kebanggaan nasional.
Terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
TEKS UCAPAN
YAB DATO’ SERI ANWAR BIN IBRAHIM
PERDANA MENTERI
SEMPENA
MAJLIS MAKAN MALAM SEMPENA KONVENSYEN
KONGRES TRITAHUNAN CUEPACS KE-30
(SESI 2025-2028)
10 DISEMBER 2025 (RABU) | 8.00 MALAM
WORLD TRADE CENTRE (WTC), KUALA LUMPUR
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh dan salam Sejahtera.
Alhamdulillahillazi anzala ala abdihil kitaba
walam yaj’allahu wa iwaja wa salli wa sallimu ala rasulihil karim
Wa ala alihi wa sahbihi ajma’in
Yang Berbahagia Tan Sri Shamsul Azri bin Abu Bakar
Ketua Setiausaha Negara,
Yang Berbahagia Tan Sri Wan Ahmad Dahlan bin Haji Abdul Aziz
Ketua Pengarah Perkhidmatan Awam,
Yang Berbahagia Dato’ Dr. Haji Adnan bin Mat
Presiden CUEPACS,
Timbalan-timbalan Presiden,
Rakan-rakan yang saya muliakan termasuk mantan-mantan pimpinan.
- Malam ni cukup melegakan. Inilah satu-satu majlis yang Presiden yang tak minta apa-apa. Aduh, luar biasa pak! (dengan nada berseleroh). Dan cetusan, kenyataan yang dari hati, ikhlas dan tentunya mengesankan saya dan rakan-rakan KSN, KPPA dan seluruh jentera JPA yang bertungkus lumus bekerja untuk menyiapkan sistem saraan baru yang mendapat sambutan yang begitu baik di kalangan penjawat awam keseluruhannya.
- Saya tahu sebagian besar saudara datang nak dengar Jamal Abdillah. Saya pun dengar, dua round tak puas. Ada lagi ke? Tapi. Yang saya nanti text kat Azizah, dia Azura jadi Azizah (dengan nada berseloroh).
- Baik, satu hal yang ditekankan oleh Datuk Haji Adnan tadi ialah tentang sikap dan peranan kita. Kita catat banyak kemajuan, banyak lagi kelemahan yang harus kita perbaiki dan seperti biasa, sebagai seorang yang punya keyakinan, seorang Muslim umpamanya, dia sentiasa cuba i’tiqan fil amal, sentiasa striving for excellence.
- Tetapi saya nak sebut di sini kerana ramai juga yang menyatakan rasa terharu, kagum atas kejayaan-kejayaan kita. Sidang ASEAN-GCC, ASEAN baru-baru ini dan kunjungan kita ke luar negara, orang melihat Malaysia ini sebagai negara yang punyai potensi dari segi pelaburan, teknologi baru, AI dan sebagainya.
- Tapi kadang-kadang orang lupa, ini berlaku kerana kerja kita sebagai satu pasukan dari penjawat awam yang serendah-rendahnya, yang membersihkan tempat, yang menyediakan kelengkapan, yang bertugas di barisan hadapan sehinggalah penjawat-penjawat awam peringkat tertinggi dan barisan Jemaah Menteri. Kita bersyukur kepada Allah s.w.t kerana kita punyai semangat bekerja sebagai pasukan mantap untuk mengangkat martabat negara kita.
- Sebab itu dalam merangka sistem saraan umpamanya, saya tidak pernah tinggal dan Tan Sri Wan Dahlan tahu dan Presiden Adnan dan juga Saudara Tan Sri Shamsul Azri. Dalam mesyuarat-mesyuarat kita, kita bicara yang tentunya memberi sumbangan dari serendah-rendahnya.
- Dan ini yang dikatakan MADANI. Kalau tidak slogan ihsan, prihatin, rahmah itu menjadi slogan. Tetapi untuk menterjemahkannya kepada bentuk-bentuk amal ialah memastikan keluarga kita, keluarga besar penjawat awam dari peringkat serendah mungkin, itu diberi perhatian dan diberi pertimbangan ganjaran yang seadil mungkin. Itu dasar MADANI sekarang. Dan tentunya saya hadir malam ini sekadar menyatakan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada saudara-saudara.
- Orang melihat tentunya prestasi Perdana Menteri, tetapi orang lupa bahawa prestasi itu baik atau lemah banyak bergantung kepada kekuatan termasuk dan terutamanya kekuatan penjawat awam. Selain itu, tentulah harapan kita menggunung kerana kita telah agak ketinggalan berapa tahun; politiknya terombang-ambing, dasarnya tidak jelas, dan kadang-kadang kita terkenal dalam isu-isu yang melemah longlaikan sendi, nadi kekuatan negara.
- Jadi, sebab itu kita harus kejar dengan lebih dan pantas, dan saya sekali lagi lah menyeru rakan-rakan untuk terus, kepada Presiden, saya ucap terima kasih. Walaupun dalam ucapan itu nampak sederhana, tetapi dalam mesyuarat waduh, Tanyalah KPPA. Itu tidak kena, ini tidak kena, ini minta, itu tidak minta, ha itu baru Presiden CUEPACS.
- Kalau presiden-presiden kesatuan sekerja ni lembik sahaja, sokong saja, tak jadi. Tetapi hebatnya ialah ada tempatnya, ada tempat dia tuntut, ada tempat dia curahkan rasa penghargaan dan terima kasih. Saya salute.
- Konvensyen ini berjalan tiga (3) hari, dan saya tentunya akan ikuti rumusan yang akan disampaikan. Tetapi oleh kerana tidak dimohon apa-apa, saya setuju untuk membantu perjalanan konvensyen, memberikan tambahan sumbangan setengah juta ringgit.
- Saya ingat Dato’ Dr. Haji Adnan ini, beliau tahu psikologi bagaimana nak menawan hati Perdana Menteri. Dia buat selamba sahaja, malam ni kita nak terima kasih, tidak ada apa-apa tetapi nampak nada dia tu ada sedih sedikit.
- Tetapi saya ikhlas. Tidak ada permohonan, tidak ada bisikan, tidak ada rasa minta, dan inilah kenyataan saya sebagai satu penghargaan kepada CUEPACS dan rakan-rakan persatuan yang ada.
- Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita melonjakkan negara ini sebagai cita-cita kita bersama, menjadikan Malaysia itu terangkat martabatnya sebagai negara hebat.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
TEKS UCAPAN
YAB DATO’ SERI ANWAR BIN IBRAHIM
PERDANA MENTERI
SEMPENA
PERJUMPAAN YAB PERDANA MENTERI BERSAMA WARGA KEMENTERIAN KERJA RAYA
8 DISEMBER 2025 (ISNIN) | 8.30 PAGI
DEWAN TAN SRI MAHFOZ KHALID
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Salam Sejahtera.
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin,
Nahmaduhu wa nusalli ala rasool kareem,
Wa alihi wa sahbihi ajma‘in.
Salam Malaysia MADANI, Salam Segulai Sejalai.
Saudara Menteri,
Dato Sri Alexander Nanta Linggi;
Timbalan Menteri,
Datuk Seri Dr. Haji Ahmad bin Maslan;
Ketua Setiausaha Negara (KSN);
Ketua Setiausaha (KSU); dan
Rakan-rakan yang saya muliakan.
- Saya diminta pakai ini sebagai menyokong yang dipaksa oleh wanita untuk menjayakan Kempen Anti-keganasan Terhadap Wanita. Jadi kita bersama-sama.
- Berbincang dengan Tan Sri KSN, kita mulakan perjumpaan bulanan ini daripada saya tumpu di Jabatan Perdana Menteri (JPM), Kementerian Kewangan, jadi kita harus adakan siri ini mengikut Kementerian. Setiap bulan kita pindah ke kementerian supaya dalam perjumpaan berikutnya setelah ada pertemuan, kita ada sesi khas dengan Menteri dan pegawai-pegawai untuk mendengar apa-apa masalah dari segi pelaksanaan, program atau rencana yang ditetapkan.
- Memang kita pilih KKR, kerana KKR dari sudut kepentingan pelaksanaan itu diantara kementerian utama untuk menentukan sama ada program yang kita lakar dan tetapkan dapat dilaksanakan dengan berkesan dan saya mulakan untuk menyatakan terima kasih dan penghargaan kepada menteri dan rakan yang telah bekerja.
- Ini saya tekankan kerana orang mengandaikan bahawa program-program yang dijalankan itu sebagai sesuatu yang sedia ada, tidak. Ia melibatkan kerja sepasukan, dia melibatkan komitmen, dedikasi, disiplin, keikhlasan, ikhlas Fi Amanillah, dia melibatkan kesungguhan dan keupayaan untuk merubah perkara dan kaedah pelaksanaannya. Ini yang saya minta selalu laksanakan oleh KSN, KPPA, KSU membantu, bukan sahaja sekadar meneruskan tetapi memperbaiki prestasi kita dari semasa ke semasa.
- Kita bersyukur, Alhamdulillah kerana beberapa kejayaan yang kita paparkan termasuk semalam di Majlis Rancakkan MADANI untuk merakyatkan dan minta supaya kita dapat santuni dan rakyat ikuti perkembangan. Dan saya dapat catatan tadi pagi dari Tan Sri KSN, kita banyak buat perhimpunan, majlis-majlis menyantuni rakyat, tetapi kali ini setelah tiga tahun MADANI, Alhamdulillah sambutan itu luar biasa, mencecah lebih setengah juta yang hadir dalam tiga hari. Ini penting kerana kita boleh lakukan perubahan-perubahan, tetapi kalau dia tidak ditangkap, dirasakan oleh rakyat, dia keberkesanannya itu akan dipersoal.
- Jadi tiap projek, tiap perlaksanaan, tiap usul baru, baik SARA atau STR ataupun Sistem Persaraan Penjawat Awam, projek-projek dilaksanakan, jambatan, sekolah, jalan raya dan sebagainya itu, dapat dilihat sendiri oleh rakyat apa yang berlaku mengikut jadual atau tidak dan perkembangan setiap tahun.
- Sebab itu bagi saya, perhimpunan-perhimpunan itu bukan sekadar pesta-pestaan sahaja, atau beli belah dan kegiatan-kegiatan seni budayanya juga penting bagi masyarakat, tetapi beri pencerahan. Semua orang berbicara tentang kebebasan dan demokrasi, tapi semangat musyawarah itu kalau dalam tradisi masyarakat kita, semangat musyawarah, gotong royong itu bermula dengan kefahaman, dengan pencerahan.
- Semua orang sekarang ini nak jadi pakar. Ada sesetengah orang kalau dalam, bila ada ruang dia boleh bicara seolah-olah dia pakar dalam semua hal. Ada orang kalau ditanya, dia boleh jawab semua isu, termasuk banyak isu yang dia tidak tahu. Sebab itu, menggunakan kebebasan itu harus juga ada pertanggungjawaban. Ilmunya, pencerahannya, maklumatnya. Sebab itu kalau kita baca, kena dakwah sekalipun, dia harus berteras dengan beberapa kaedah yang disebut fiqh dakwah, iaitu kaedahnya termasuk memahami subjek yang dibicarakan, menyampaikan dengan baik. Sebab itu dalam gesaan dakwah dan Al-Quranul Karim itu bil hikmah. Apa bil hikmah? Dengan b
- Kebijaksanaan itu dengan menyampaikan maklumat dan ilmu tidak untuk menimbulkan perpecahan, permusuhan. Tambah lagi kita di Malaysia ini, pelbagai kaum, pelbagai agama, pelbagai wilayah, pelbagai budaya, jadi mesti hikmah itu menunjukkan ada semangat kasih sayang. Diulang, bil-ḥikmah wal-maw‘izhati al-ḥasanah, wa jādilhum billatī hiya aḥsan. Tiga (3) kali, hikmah dengan cara yang baik.
- Jadi, tentunya ada maksud penyampaian dalam semua bidang. Ada orang tanya saya, ini soal projek jalan raya, jambatan, sekolah, apa kena-mengena dengan dakwah bil-ḥikmah? Tapi kebijaksanaan itu penting, nak menyampaikan itu dengan bijaksana, dengan waras, dan sebab itu, di atas hadis yang paling awal dihebahkan, kebanyakkan muhaddisīn itu tentu soal yang ditekankan ialah soal kasih sayang.
- Jadi bagi negara MADANI, apa dia kaedah yang agak unik bagi pandangan saya? Tentunya Kemampanan, pertumbuhan ekonomi, Peralihan Tenaga, Energy Transition atau Transformasi Digital, AI, itu semua penting. Tetapi terasnya masih Nilai, masih Kemanusiaan. Jangan kita lupa itu. Yang kita bangunkan itu bukan sekadar gedung. Bukan sekadar jambatan, bukan jambatan besi, betul, tapi jambatan besi itu untuk menghubungkan manusia. Jalan konkrit itu untuk dimanfaatkan oleh manusia. Sekolah bangunan fizikal yang kita bangunkan itu untuk mendidik manusia.
- Jadi nilai manusiawi itu jangan kita tinggalkan. Itu yang disebut karamah insaniyyah – walaqad karramnā banī Ādam. Kemudian, dalam penyampaian ini saya tekankan kadang-kadang dalam pertarungan kita, baik politik, baik perselisihan faham, baik ideologi, baik kaum, suku kaum, negeri, itu kadang hilang nilai kemanusiaanya. Dia luput.
Dan kita kadang-kadang dewa-dewa agung, jadi, soal nilai itu diketepikan.
- Umpamanya dalam soal memerangi rasuah sekarang, nilai itu juga terhakis. Kita kata kita benci rasuah, bila ambil tindakan kalau kena kepada kawan kita, dah kita marah. Bukan setakat itu, kita sekarang ada pula trend aliran untuk mendewa dan mengagungkan pemberi rasuah. Saya fikir sangat-sangat menggusarkan, kerana ini tidak akan mampu mengangkat negeri kita dan negara kita.
- Yang saya sebut tadi hadith awal itu, Irḥamū man fil-arḍ, yarḥamkum man fis-samā’. Ini satu hadis yang menyentuh soal kemanusiaan, bukan kebencian kaum atau agama dan bagi kita negara sangat penting ditekankan. Apa maksudnya Irḥamū man fil-arḍ ? Tunjuk kasih sayang kamu di bumi. Saudara merangka untuk membina jambatan, niatnya apa? Kerana kasih sayang pada manusia yang tidak boleh menyeberang dengan baik. Menunjukkan kemudahan kerana kasih kepada manusia
- Kenapa gedung-gedung sekolah itu hebat? Ya, nak canggih, nak hebat, nak ada AI, smart city, smart school, tetapi untuk apa? Kerana kasih kita kepada anak-anak kita, malah kalau dalam Islam ditekankan, sebutnya kasihnya bukan fi al-insān sahaja, fi al-arḍ, di bumi, haiwan, pohon-pohon, gunung-gunung, yang jahanam kadang-kadang. Banjir itu kadang-kadang ada benarnya juga. Air pasang, hujan banyak, tapi bukan semuanya benar. Sebahagiannya runtuh kerana tamak haloba, kegelojohan manusia. Meruntuhkan bukit-bukau, melunaskan balak sehingga terhakis dan terbebannya itu rakyat.
- Jadi bila kita sebut, Irḥamū man fil-arḍ, kasihlah kamu, sayanglah kamu, yang di bumi, itu termasuk bukit bukau. Sebab itu dalam saudara melakar bangunan, kalau tebing bukit dan sebagainya, itu semua di ambil pengiraan, betul dari segi kejuruteraannya, kepakarannya kepada saudara-saudara, saya tidak mahu argue, saya tidak tahu. Bincang falsafah, agama, ekonomi saya boleh sedikit. Kejuruteraan, jenis bentuk bangunan semua, ada nota yang Ketua Setiausaha bagi, saya tidak larat baca, saya pun tak faham semua. Itu jadi kita hormat kemahiran, kepakaran saudara.
- Tanggungjawab saya menekankan bahawa dalam negara MADANI ini, bila kita sebut Ihsan, Hormat ini maknanya membina gedung itu sebenarnya membina manusia dengan nilai manusiawi untuk faedah manusia. Jadi fil-arḍ itu untuk manusia. Tentu manusia itu muslim dan bukan Islam. Ada orang kata kalau sekolah itu berbeda, tidak. Ada hal soal akidah, soal ibadat, soal solat itu kita berbeda. Tapi soal kehidupan, soal keadilan, soal kemanusiaan, soal pembangunan, soal kesejahteraan, itu bersama. Itu pertama, manusia.
- Yang keduanya, haiwan, kasih. Yang ketiganya, pohon-pohon dan bukit-bukau dan bumi yang kita pijak, apa ertinya? Sekiranya ini dimaknai dan diamalkan – Irḥamū man fil-arḍ, yarḥamkum man fis-samā’, nescaya yang di langit akan mencurahkan rahmat dan kasih sayang kepada kita.
- Bayangkan, saudara buat jambatan, apa kena mengena dengan yang lain? Niat yang ikhlas, yang bersih, yang tidak kira komisen dan rasuah penyelewengan, dilaksanakan dengan baik, Dengan maksud membina satu jambatan yang terbaik, dengan kos yang ada, untuk faedah manusia, dengan harapan dan niat kasih sayang kepada manusia. Yang di langit akan curahkan rahmat kepada saudara. Ini bukan saya kata, ini hadis Nabi Muhammad S.A.W.
- Bayangkan, setiap hari yang saudara kerjakan, setiap design yang sudah lakar, setiap kaedah baharu yang diperkenalkan, setiap usaha untuk mempercepatkan, menyiapkan. Orang yang memerlukan jambatan itu untuk siap Januari tapi tertangguh bulan Februari, sebulan dia derita. Tertangguh enam bulan, dia sengsara, tertangguh sepuluh bulan, dia duka lara.
- Jadi sebab itu, kalau niatnya begitu, saya percaya kita boleh lakukan. Dan bayangkan, saudara hanya mencatat minit mesyuarat dengan niat baik untuk kebaikan keluarga kita, kemanusiaan seluruhnya, walaupun menyempurnakan tugas jabatan. Bayangkan yarḥamkum man fis-samā’, yang di langit itu akan mencurahkan kasih sayang kepada kita. Tak terbayar kita. Tak termampu kita meneruskan projek. Tetapi yang dicurahkan dari langit itu, percambahannya hanya kerana niat kita kasih kepada manusia. Ya. Jadi, demikian mukadimah saya.
- Tentang Negara MADANI dan kasih sayang serta nilai, kerana seringkali kita lupa. Semua kita sibuk dengan kerja, kita lupa sebenarnya. Kalau kata saya umumkan semalam, miskin tegar — Alhamdulillah Malaysia satu-satu negara, saya tidak mahu dabik dada dari usaha saya orang, kata Anwar angkat. Bukan. Ini pasukan. Alex (YB Dato Sri Alexander Nanta Linggi) saudara Alex ada dalam Jemaah Menteri, ini tekad kita bersama. Kemudiannya Ketua Setiausaha Negara menterjemahkannya jadi pelaksanaannya.
- Ahmad Maslan (Yang Berhormat Datuk Seri Dr. Haji Ahmad bin Haji Maslan) bawa dalam parti dia untuk memberikan dukungan supaya dalam hal-hal yang pokok ini kita bersama. Dan syukur Alhamdulillah kerana kita catat, hampir menoktahkan. Kalau 0.09% itu, maknanya menoktahkan.
- Jadi, ada catatan? Adakah ada kelemahan? Masih ada. Apakah harus kita perbaiki lagi? Harus, ya. Kerana manusia ini dinamik. Untuk mencapai kejayaan, itulah ‘Itqan fil-‘amal –striving for excellence. Itu bukanlah kita meremehkan apa yang kita lakukan. Tapi kita akui bahawa masih ada ruang untuk diperbaiki.
- Itu yang saya tekankan dalam tajuk kedua ini ialah tentang Kementerian Kerja Raya. Saya merenung Kementerian mana nak pergi ini. Saya terus berfikir KKR, yang pertama pasal YB Dato Sri Alexander Nanta Linggi. Saya kawan sejak ayah dia lagi. Baik. Tapi saya nak sebut di sini bila berfikir, kita ada rancangan. Dan Alhamdulillah, dalam ombang ambing politik beberapa tahun sebelumnya, sekarang 3 tahun Kerajaan dan politik negara stabil, Alhamdulillah. Walaupun biasalah hal politik boleh baca sedikit-sedikit itu cukuplah, jangan runsing sangat. Hari-hari “Anwar turun, kejap lagi saya turun’’ (PM berseloroh) itu biasa.
- Tetapi Alhamdulillah, kita dapat bertapak dan catat. Saya tidak akan mengulangi pertumbuhan 5.2% peratus. Pengangguran 3%, kemiskinan tegar 09%, pelaburan tertinggi dalam Sejarah, semua okey. Saudara pun dah ikuti dan semalam kita ulang semula. Tapi yang saya nak tegaskan di sini ialah memahami bahawa politik negara yang stabil itu harus dimanfaatkan untuk melakar program yang jelas dan melaksanakan. Saya tidak katakan mudah. Tetapi setelah setahun mungkin sukar, tapi tiga tahun orang boleh buat ukuran.
- Dan kerana kadang-kadang sikap sesetengah pihak yang sangat negatif. Dia melihat hanya hal-hal yang negatif. Di rumahnya pun, saya pun simpati lah kalau dengan isterinya, kalau sikap dia itu asyik marah, dia balik rumah macam mana agaknya? Tetapi sampai ke situ. Jadi saya tanya kenapa kita pilih Kementerian Kerja Raya? Sudah stabil, perancangan sudah ada, dan prestasi Alhamdulillah.
- Dan untuk terus maju dengan kelajuan yang lebih meyakinkan, dia agensi pelaksana. Tiada yang paling mencabar dan diharapkan tentunya Kementerian Kerja Raya. Maknanya kalau kita bincang semua projek-projek, yang projek kecil itu boleh, ya masih penting, dan dikendalikan oleh jabatan-jabatan lain. Tetapi projek-projek prasarana infrastruktur yang besar, itu Kementerian Kerja Raya. Dan sebab itu saya pada hari ini bagi pihak rakan-rakan saya datang selain menyatakan penghargaan tentang apa yang dilakukan tapi meletakkan harapan yang sangat tinggi.
- Kita baru selesai PRU Sabah. Dan saya sebagai manusia, saya faham juga orang marah. Dia kata, dengar, Menteri silih berganti, kerajaan silih berganti, Perdana Menteri silih berganti. Air belum berganti. Elektrik disebut karan, karan. Nenek saya dulu dia sebut karan, kalau di Pulau Pinang. Elektrik, belum pasang. Jalan, lubang-lubang. Jadi bagi dia, dia resah. Dia belum cukup yakin. Saya tak salahkan mereka. Walaupun kita telah luluskan jumlah kewangan yang paling besar dalam sejarah. Saya sebut macam untuk keseluruhan pembangunan dan operasi expenditure untuk Sabah itu RM17 bilion. Untuk air dekat RM1 bilion, untuk elektrik RM1.2 bilion. Tapi belum siap. Jadi selagi belum siap, kerana dia terasa terpinggir sekian lama, kita boleh faham.
- Sebab itu saya tak ambil sikap macam setengah orang politik. “Oh, dia tak sokong aku.” Marah, marah. Saya tidak. Saya cuba faham. Ini baiknya orang yang lalui liku-liku yang agak sukar dan penuh derita. Dia lebih faham. Empathize dengan derita orang. Jadi saya pergi turun ke Sabah, hari Sabtu. Dan bagitahu pada mereka, kita akan pantau dan program-program pelaksanaannya. Dan sebagai Menteri, Alex akan juga perhatikan projek-projek ini.
- Dan untuk semua projek lain yang melibatkan kementerian semua lain, Unit Penyelarasan Pelaksanaan, ICU JPM akan pastikan mesyuarat bulanan di Kota Kinabalu. Supaya hal yang tiga yang paling penting bagi rakyat – jalan, elektrik, air itu kita cuba leraikan dalam segera mungkin. Saya minta mesyuaratnya kalau boleh bulan ini, kalau tidak mulai bulan Januari.
- Dan sekali lagi saya tekankan, KKR itu tonggaknya. Saudara berjaya, berjayalah pembangunan negeri itu. Dan saya yakin insya-Allah, saudara akan lebih berjaya dengan tekad dan kesungguhan yang ada sekarang.
- Apa yang harus dilakukan oleh kementerian, selain daripada untuk negeri, ialah menyenaraikan seperti yang sudah ada dalam senarai, semua projek. Berapa ratus projek atau mungkin ribu di negara kita. Dan pastikan kita rekod prestasi mereka. Dan kalau ada, jangan tunggu sehingga selesai. Dato’ Sri Alex tahu benar, kita kata kalau kita ambil sikap yang lebih keras terhadap kontraktor, kalau masalah sambil lewa dan lambat untuk pastikan projek itu dilaksanakan mengikut jadual. Jadi ada di peringkat kementerian, itu bulanan pantau secara teliti dan terus ambil tindakan.
- Kemudian yang diuruskan di peringkat negeri, baik Sabah ke Sarawak ke Perlis ke Kelantan, supaya projek itu dijalankan mengikut jadual. Kadang-kadang saudara lagi mengerti apa yang diperlukan di bawah daripada perancangan di atas.
- Jadi pegawai-pegawai yang turun ke bawah, sebab tu kita dapat ambil Kampung Angkat, Sejati MADANI itu kerana kita tidak mahu disconnect di antara di atas, di Kuala Lumpur itu dengan di Cherok To’Kun. Jadi sebab itu, bila saudara ke bawah, beri ruang. Saya minta KSU umpamanya beri ruang kepada pegawai-pegawai termasuk yang rendah untuk beri feedback bukan sahaja setakat projek, tapi cadangan mereka. Kadang-kadang kita nak buat sekolah, projek lulus. Tapi bila dia turun ke bawah dia tengok jalan itu teruk, itu tak masuk dalam projek. Jadi beri ruang kepada pegawai lebih rendah itu submit pandangan mereka. Bukan semestinya dalam proses dan prosedur yang sedia ada. Dan kita beri pertimbangan.
- Dengan cara yang sedemikian kita bekerja sebagai satu pasukan dan saya percaya penuh kepada Menteri dan juga Timbalannya, KSUnya untuk terus memantau dan menjadikan KKR ini dengan prestasi yang membanggakan.
- Saya sekali lagi saya ucapkan penghargaan setingi-tingginya pada rakan-rakan. Dan memang sengaja saya pilih KKR kerana saya menetapkan harapan yang tinggi atas usaha dan khidmat dan kesungguhan saudara-saudara.
Terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
