TEKS UCAPAN VERBATIM: WACANA HARMONI MADANI SEMPENA SAMBUTAN HARI WESAK
TEKS UCAPAN VERBATIM
YAB DATO’ SERI ANWAR BIN IBRAHIM
PERDANA MENTERI
SEMPENA
WACANA HARMONI MADANI SEMPENA
SAMBUTAN HARI WESAK
23 MEI 2026 (SABTU) | 11.00 PAGI
MENARA KENT, PETALIING JAYA, SELANGOR
Assalamualaikum dan Salam Sejahtera.
Kepada semua penganut agama Buddha yang hadir dan di seluruh negara, saya ucapkan selamat Menyambut Hari Wesak.
Saudara Anthony Loke Siew Fok,
Menteri Pengangkutan;
Puan Hannah Yeoh,
Menteri Jabatan Perdana Menteri;
Lillian Chang,
Presiden Pertubuhan Perunding Buddhist Malaysia (MBCC);
Perwakilan Asing; Para pemimpin agama yang saya muliakan.
Saya mulakan dengan menyatakan penghargaan dan terima kasih kepada majlis Perundingan Agama Buddha Malaysia, kerana beri kesempatan kepada saya. Walaupun diperingatkan berulang kali oleh Saudara Anthony Loke pentingnya hadir, dan saya terpaksa percepatkan satu acara tadi di Gombak untuk datang ke sini untuk menghormati bukan sahaja persidangan ini, tapi Masyarakat Buddha seluruh negara menghormati amalan agama mereka dan sambutan hari Wesak hari ini.
Saudara-saudara, Lillian tadi, dan kemudian sudah Anthony Loke menerangkan tentang apa dia cabaran dalam negara kita dan tanggungjawab kita bersama.
Negara ini dari awal di bawah Yang Teramat Mulia Tunku Abdul Rahman Putra al-Haj menetapkan dan jata negara Bersekutu Bertambah Mutu, Unity in Diversity. Jadi kepelbagaian itu, perbedaan itu bukan perkara baru. Kita sebagai negara dilahirkan dengan menerima kenyataan kepelbagaian.
Memang ditetapkan masyarakat Melayu, bumiputera itu majoriti dan beberapa peruntukan perlembagaan Islam agama Persekutuan. Tapi dari awal, kita terima kenyataan kepelbagaian, menghormati dan memuliakan.
Sebab itu dalam negara MADANI ini, kita bukan melakar sesuatu yang baru. Tapi kita meneruskan agenda di mana pengasas negara kita menetapkan.
Kalau adapun perbedaan, adalah perbedaan untuk memaknai, memberi makna kefahaman yang lebih baik. Orang bertanya, mengapa MADANI? Apa kelainannya? Semua negara bicara soal pembangunan, soal digital, soal teknologi, soal inovasi. Tetapi kita menekankan soal nilai, values, ethics yang sebenarnya berakar kepada kepercayaan agama. Dan ditinggalkan banyak dari fahaman barat. Tidak semuanya, tetapi tidak menjadi wacana. Values and ethics and morality, though being discussed, deliberated by many quarters, including in the West, but it has not become the pillar, the thrust of nation building. This is an exception.
In Malaysia, whilst talking about development, innovation, digital transformation, energy transition, artificial intelligence, we have to remain steadfast, embedded in our faith, our moral values, our ethics. This makes us unique as a nation. While striving for development and change, we must ensure that we remain very human. The humanitarian values, values of respect, human value which is sometimes being ignored. People get killed, slaughtered. It does not touch the hearts and minds. It is a disease of the heart. But this is not unique to Asia. People say, well, I’m anti-Western. It’s not true because you talk about even in the west you talk about necessarily the views of the Pilgrim Fathers, those who initiated the formation of strengthening of the United States America originally. I’m not discussing American politics now. It’s dangerous. You see, they talk about habits of the heart. Can you imagine America talking about habits of the heart? Is the heart they must dictate very Buddhist, very Islamic or very Confucianist, very Christian, but it is lost. These values are not only not practiced but not even discussed. But these were values which is inherent because the Founding Fathers even in the West United States of America started strengthening the issues of values and ethics which stems from and what Alexis de Tocqueville, the great French scholar author referred to in his democracy in America as habits of the heart.
Can you imagine what relevance is there now, not only in the United States or Europe or even Asia or Africa or Latin America because what’s been practiced is practical issues. What is politically expedient, not necessarily values, ethics. And that is why I think I am very encouraged when release leaders like you present today want to participate and continue to engage. You can’t blame Buddhists for sometimes having some negative outlook towards Islam. Or many Muslims who only compare or understand Buddhism from the yellow ropes, nothing else. It is the lack of understanding, you know, in this debate, contentious, rancorous exchanges that’s happening today. People argue, condemn one another here in the social media, in the political arena. Luckily Buddhist monks are not politicians because it’s completely outside this ethical framework. Things being said abused is contrary to all the values that we talk about. And but you ask them, most of them have hardly any understanding. It’s just fanning racial sentiments, religious sentiments. It’s just hatred, no religion. I am a Muslim. I’m trying to be a good practicing Muslim. But I fail to understand where in my religion do you preach hatred and enmity. I thought the whole thing like Assalamualaikum, Peace be upon you. The first verse in the Quran, Alhamdulillah. Praise be to Allah, Rabbin Alamin Ar Rahman. You know, it’s all about compassion, mercy, compassion, mercy, peace. But you see, well that’s what you read, that’s not what you preach. There is this problem therefore between exhortations and practice and this is our challenge. My challenge, your challenge to inculcate this on of an understanding for our own survival in this country and for humankind. Look at this exchange now. We had recently, I think venerable was there last year when we had this inter religious conference, you remember. I then said look, why can’t we political leaders sit down for a while, a few hours, close our eyes and listen to the wisdom of our religious leaders for a change had the humility to acknowledge that there are flaws in our society from endemic corruption, abuse of power, racial discord, religious bigotry, enmity which runs contrary to what our religions preach.
Sebab itu saya merasakan perlu, Jadi itulah sebabnya mengapa saya merasakan perlu kita hebahkan dan sungguh-sungguh. Saya tiga tahun setengah dengan bersama Anthony Loke, Hannah Yeoh dan kawan-kawan dalam Jemaah Menteri kita cuba sebaik mungkin.
Tetapi, buatlah apa pun yang balik bincang negara ini akan ditawan oleh kaum ini, dan masalah orang ini makan lain, kita makan lain. Jadi, tiap hari ada sahaja isu yang boleh menimbulkan rasa benci padahal kalau dalam prinsip agama kita apa? Saudara sebut mula dengan Metta. Am I right? It’s kasih sayang and then how is it? Ataupun saya sebut tadi Islam Rahman, Rahim, compassion, mercy you sebut metta.
How is it there’s no Metta, there’s no Rahman? There’s only gaduh-gaduh, lawan-lawan. Jadi sebab itu bagi saya, let us start with this understanding let us debate and continue this dialogue to inculcate that understanding of values. It’s important.
Jadi, yang hadir kebanyakannya dari pelbagai tradisi dalam agama Buddha pun Rabada, Mahayana, itu sebahagian di dalam Islam pun ada juga pandangan-pandangan yang agak berbeza. Tetapi ia tidak merugikan kalau kita bicara soal Metta, dan macam Metta tu ada sila dia. Sila tu dah jadi bahasa Melayu juga kalau Indonesia sebut pancasila. Sila ini macam aturan, prinsip cara hidup yang patut diamal bukan sahaja oleh rakyat tapi orang-orang yang memimpin. Maknanya dan sepertinya juga Metta dan Sila dan Karuna dan Perajna.
Bila saya sebut Perajna, dia terus hilang (nada berseloroh). Perajna itu dia wisdom kebijaksanaan. Maknanya negara itu kalau tidak jaga akan hilang wisdom itu.
Jadi, mana dia? Karuna kita mana Sila kita jadi, kalau saya ingat kalau kita hidupkan belas kasihan dan ada dasar tapi apa yang bagi saya yang istimewa dalam apa yang venerable teachers talk about these are not only values and principles ianya tadi sepertimana disebut awal tadi dalam karya Alexis de Tocqueville Habits of the heart. Tidak ada Sila, tidak ada Karuna kalau tidak terpancar dari hati am I right?
Jadi, mengapa tidak boleh kita? Majoriti rakyat ini baik etnik Cina, India, Iban, Kadazan dan Melayu Bumiputera tidak bolehkah kita? Kita yang majoriti itu dictate, majoriti mesti ada pegangan sekarang ini, yang minoriti yang bising, yang marah, yang kejam, yang panaskan orang, yang berhimpun, tanam kebencian, buat fitnah, takutkan orang ini, marah orang ini, itu the minority.
Ini seolah-olah tyranny of the minority. Kezaliman, kekejaman golongan kecil yang memaksa golongan besar. Saya nak ambil kesempatan ini dan merayu dalam sempena harmoni MADANI ini mengatakan sudah sampai ketikanya yang majoriti bersuara dari hati nurani mereka selamatkan negara kita dan majukan semua.
Saya membesar sepertimana juga kawan-kawan saudara membesar, kenal rakan-rakan Muslim saya membesar, kenal beberapa rakyat-rakyat Buddhist dan saya lihat dari segi kemanusiaannya ada yang baik yang baik hati nurani, yang bekerja dengan tekun, yang punya kecintaan kepada negara, yang sanggup berkorban, yang sanggup susah payah, yang menghulurkan bantuan dan derma, yang mahu jadikan Malaysia ini satu yang berjaya, mulanya dari hati nurani kita.
Saya lihat ramai begitu biasa sepertimana juga ada Muslim baik, ada juga Muslim yang tidak baik ada Cina atau Buddhist baik, ada juga yang tidak baik ada yang bersih, yang membawa kemajuan ada yang corrupt dan jahat.
Tetapi, kita beri ruang. Sepertimana saudara-saudara didik mereka, beri kebijaksanaan kepada mereka, tanam apa yang disebut keperluan untuk membawa semangat perubahan dalam diri mereka dan masyarakat mereka. Kalau tidak saudara-saudara, buatlah apapun. Semalam kebetulan di Securities Commission, Suruhanjaya Sekuriti, kita ada majlis bulanan, saya panggil, saya gelar Forum Ilmuwan MADANI. MADANI intellectual discourse. Professors, top corporate giants, political leaders, masuk, bincang. Tajuk semalam Capital Market, bagaimana nak menjana pertumbuhan ekonomi dan pasaran saham lebih segar, pelaburan meningkat yang juga penting, bila ada kita boleh bantu rakyat.
Tetapi dalam simpang siur perbincangan itu bangkit soalan tentang bagaimana bumiputera tidak diberi layanan yang baik, bagaimana bumiputera kekal miskin, tidak dipedulikan. Saya fikir pun aneh juga. Saya juga anak bumiputera, saya pun sokong program-program untuk bantu bumiputera. Tetapi tak bolehkah? Tak bolehkah kita dalam negara ini? Sementara kita nak bantu anak Melayu, anak bumiputera ni, kita juga fikir semua anak kita yang susah, yang miskin, yang memerlukan bantuan itu kita bantu bersama sebagai satu keluarga besar Malaysia.
Kita dah hampir 70 tahun Merdeka. Kita dah berikan sebaiknya dan tak boleh kalau orang Melayu atau bumiputera kata kita dah pinggirkan mereka, tak betul. Tetapi kita juga kena terima kelemahan-kelemahan. Berapa puluh bilion ringgit saham yang dilesapkan. Berapa banyak rasuah oleh pemimpin-pemimpin. Bukan sahaja Melayu tentu ada, Cina, India ada. Tetapi tak bolehkah kita betulkan begitu? Tak bolehkah kita guna ada semangat dari mengetuk pintu hati kita, katakan enough. The majority says enough. Let us move dengan bijaksana, berperingkat, baiki, supaya nasib rakyat kita baik Melayu, atau Cina, atau India, atau Sarawak, Sabah, kita bantu bersama. Tak bolehkah wacana kita itu berubah dari pisah-pisah-pisah kepada kasih, kepada MADANI, Ihsan, kepada Hormat, kepada kemanusiaan. Sebab itu, saya ucap terima kasih. Prof. Osman Bakar pun ada di sini, yang banyak membantu ke arah yang sedemikian. Dan saya terharu sedikit kalau saudara dengar ucapan saya tak selalu begini. Tadi saya tak berani naikkan suara sangat sebab tuan-tuan guru kita banyak di sini, ketua-ketua pateri yang saya hormat, jadi saya minta maaf tapi saya bicara dari hati.
It’s time, it’s time that we Malaysians, we decide, enough of this politics of hate and discord. You see. I mean I’m there. I don’t think I’m in a position like Loke, we can’t avoid that. We are in the midst of all this, you see. We try and work hard, we’re working hard. We try to improve the welfare of our people.
As I said last night, every Monday we have the pre-Council to understand economic challenges particularly now after the Gulf War. On Tuesday, we have the National Economic Action Council meeting. On Wednesday we have the Cabinet. The Cabinet does not mean it’s one or two hours, minimum three hours to discuss and deliberate issues so we’re not sitting down idly. All these ministers are busy during weekends, Monday, Tuesday, Wednesday they’re stuck to work just to think and act to try and help build this country.
And I am proud to say Shukur Alhamdulillah, that we still work as a team but we need this understanding, whilst we work and focus on the economy, employment, new investments, new technology, improve the quality of education, providing services to everybody. What we hear is just hate, division, against this race, against that race and picking up issues that will weaken our resolve.
Brothers and sisters, Malaysia is a great country. Malaysia has proven despite the fact that it is multi racial, multi religious from 1957 then 1963 together in Malaysia, 1969 there is riot. Many countries, many political observers have given up hope on Malaysia. Impossible for a multi racial, multi religious country can survive manage. But I say thank to Malaysians, thank to our earlier leaders because of their resolve, their commitment and the prayers of many and many of you who continue to pray to show devotion, thank you very much.
So let the majority, let most of you, take the mental and lead from the dictate of your heart. Bagi pihak kerajaan tentunya, cadangan Saudara Loke sebentar tadi, acara seperti ini saya tidak ada masalah. Kalau dah berjaya, kita akan tentukan bahawa Malaysia akan berikan terus penghormatan dan sokongan bagi menjayakan Hari Wesak untuk tahun-tahun berikutnya. Jadi sekali lagi saya ucap terima kasih. Selamat Hari Wesak.
